T*mbal Berikutnya
Tubuh Sukarso masih dibelit ketegangan luar biasa saat ia berdiri mematung di depan pintu ruang rahasia itu. Baru saja, bisikan gaib jenglot kembali bergema menghantam kesadarannya. Permintaan sang makhluk kali ini sungguh tak biasa. Tak ada nama korban yang terucap. Tak ada pula permintaan barang yang pernah ia serahkan sebelumnya. Jenglot itu cuma menegaskan satu hal: saatnya menyajikan t*mbal selanjutnya telah tiba.
Sukarso menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya. “Siapa yang harus menjadi t*mbal?” tanyanya dengan nada bergetar pelan. Hening mencengkeram cukup lama tanpa ada sahutan. Hingga akhirnya, gema dingin itu kembali merayapi benaknya.
“Sekarang... terserah kamu.”
Sukarso tertegun. Jawaban bebas itu justru melemparkan pikirannya ke dalam pusaran kekacauan yang lebih hebat. Saat nama Darto yang ditunjuk, segalanya terasa lebih gampang. Namun kini, vonis t*mbal sepenuhnya berada di jemarinya sendiri. Ia berhak menentukan siapa saja. Justru karena kebebasan itulah, kengerian yang melingkupinya makin membumbung tinggi.
Pesugihan Jenglot dan T*mbal Berikutnya
Perlahan, jenglot mengalirkan sekelumit intuisi gaib agar Sukarso mampu mengenali calon korban yang pas. Bersamaan dengan itu, ia merasakan gejolak asing yang merayap dan menempel di sekujur tubuhnya. Ia tak paham betul fenomena magis apa yang sedang terjadi. Satu hal yang ia tahu pasti: ia bukan lagi Sukarso yang dulu.
Setitik rasa lega sempat menyusup ke dadanya. Bukan lantaran ia menikmati aksi keji ini, melainkan karena satu alasan utama. Nama keluarganya sama sekali tak terseret. Lastri, Rian, maupun Sari tak disebutkan sedikit pun oleh makhluk itu.
Namun, kebahagiaan sejenak itu mendadak berganti menjadi kecemasan yang mencekik. Bagaimana jika keputusannya keliru? Bagaimana kalau ia gagal memenuhi kehendak jenglot? Bagaimana bila ancaman lama itu benar-benar diwujudkan, lalu anak dan istrinya diseret sebagai pengganti?
Rentetan ketakutan itulah yang akhirnya memaksa Sukarso membuat keputusan bulat.
“Aku harus melakukannya,” bisiknya mantap.
Tumbal Pesugihan Mulai Dicari Sukarso
Sejak malam penentuan itu, matanya mulai bergerilya mengamati lalu lalang orang di sekitar tempatnya berjualan. Ia tak ingin asal pilih. Sasarannya adalah sosok yang sekiranya tidak akan dicari atau diratapi jika mendadak lenyap tanpa jejak.
Hingga akhirnya, pandangannya tertuju pada sesosok pria yang kerap berkeliaran saban malam. Laki-laki itu dikenal luas sebagai p*eman lokal yang gemar membuat kekacauan di kawasan tersebut.
Sukarso tak langsung menyergap. Ia memilih mengintai dari kejauhan. Malam berganti malam, intaian itu terus berlanjut. Sampai pada suatu ketika, ia mendapati pria tersebut berjalan seorang diri.
Malam telah larut sepenuhnya. Suasana jalanan begitu lengang. Lampu pendar jalanan yang temaram hanya sanggup menerangi sudut-sudut tertentu. Dari balik bayangan, Sukarso membuntutinya. Telapak tangannya mendadak dingin dan basah oleh keringat.
Untuk pertama kalinya sejak bersekutu dengan jenglot, ia benar-benar sadar bahwa langkahnya kini mengarah pada titik hitam yang tak bisa diputar balik.
“Kalau aku mundur sekarang...” gumamnya lirih.
Bayangan Lastri dan kedua buah hatinya seketika terlintas di benak. Sukarso memejamkan mata sejenak, memantapkan tekad. Lalu, ia memberanikan diri melangkah maju.
Jenglot dan Persembahan Tumbal
Malam itu, sebuah t*gedi kelam terjadi—sesuatu yang mati-matian ingin dihapus Sukarso dari ingatannya. Tak seorang pun tahu pasti k*kerasan apa yang terpercik di balik kegelapan tersebut. Yang tersisa hanyalah hening yang mencekam serta keputusan fatal yang makin menyeret hidup Sukarso jauh dari kata normal.
Seusai segalanya tuntas, Sukarso melangkah pulang dengan beban berat yang mengimpit dadanya. Tak ada kepuasan. Tak ada kejayaan. Yang tertinggal di rongga dadanya hanyalah kehampaan yang dingin.
Kecurigaan kecil keluarga kor*ban
Namun, ia tahu tugasnya belum usai. Sukarso meraih wadah keramat pemberian jenglot. Dengan jemari yang gemetaran hebat, ia menyerahkan persembahan k*lam itu kepada benda kecil yang selama ini menjadi sumber kekayaan instannya.
Jenglot itu membisu. Sukarso menahan napas dalam penantian. Beberapa detik kemudian, terdengar dengusan suara yang membuat bulu kuduknya berdiri seketika.
“Bagus...”
Sukarso merundukkan kepalanya dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, sebuah kesadaran menghantamnya: gelimang harta yang ia nikmati bukanlah hadiah cuma-cuma. Setiap keping emas yang memenuhi tokonya seolah menuntut bayaran yang jauh lebih m*hal dan berd*rah daripada yang pernah ia bayangkan.
Sementara itu, jauh dari kediaman Sukarso, keluarga Darto pantang menyerah menelusuri jejak keberadaan sang kepala keluarga. Hari demi hari merayap pergi tanpa membawa kepastian.
Awalnya, mereka mengira Darto hanya pergi agak lama untuk urusan bisnis. Namun makin hari, rasa cemas makin menggerogoti pikiran mereka. Hingga akhirnya, keluarga Darto sepakat untuk mencari bantuan pihak luar.
Mereka menggali keterangan dari siapa saja yang pernah berurusan dengan Darto. Dari penelusuran itu, satu per satu petunjuk samar mulai terkuak. Bagi orang awam, petunjuk itu mungkin tak berarti apa-apa. Namun bagi keluarga Darto, setiap remahan informasi adalah titik terang yang amat berharga.
Keputusan baru pun diambil. Seseorang ditugaskan untuk mengintai secara senyap setiap aktivitas yang berkaitan dengan Darto, termasuk tempat-tempat yang kerap ia sambangi.
Bukan cuma kediamannya. Toko serta orang-orang yang pernah menjalin kontak dengannya mulai diawasi ketat.
Tanpa sedikit pun disadari oleh Sukarso, pencarian itu perlahan makin menyudutkan posisinya. Seseorang telah mengamati gerak-gerik di sekitar tokonya. Dan di luar pengetahuan Sukarso... kini ada pasang mata asing yang diam-diam terus mengintai setiap langkahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar