Gerobak Bakso Warisan Ayah.
Suara derit roda kayu di atas aspal jalanan berlubang selalu menjadi alarm paling ampuh di gang kami setiap pagi. Menjelang pukul enam pagi, aroma kaldu sapi gurih yang menguar dari panci gerobak Pak Budi sudah membuat perut keroncongan. Ayah tidak hanya sekadar berjualan bakso. Beliau adalah tipe orang yang jika menemukan anak kecil menangis di pinggir jalan, akan memberikan semangkuk bakso lengkap dengan tahu dan tetelannya secara gratis. Padahal, kami sering menunggak pembayaran air di kontrakan kami yang terdiri dari dua petak.
"Rombong baksonya jangan lupa dilap dengan kain basah dulu, Ton, agar kinclong," celetuk Bapak sambil mengikat tali sepatunya yang sudah usang. Saat itu, aku yang masih kelas 4 SD hanya cengengesan dari balik pintu.
"Oleh-olehnya tetelan yang empuk ya, Pak! Nanti Anton bantu menghitung uang kembaliannya."
"Siap, Bos Kecil. Belajarlah dengan benar agar kelak tidak hanya pandai menghitung kembalian uang bakso," balas Bapak sambil tertawa, menunjukkan deretan giginya yang agak kuning karena asap rokok.
Kesehatan Bapak Mulai Menurun
Namun entah mengapa, beberapa bulan terakhir, gerobak Bapak terlihat sangat berat saat didorong. Suara batuknya semakin sering terdengar dari dalam kamar mandi, terdengar keras dan dada dadanya terlihat menahan sakit. Wajah Bapak yang biasanya ceria berubah menjadi agak pucat dan tirus.
"Mengapa tidak libur dulu sehari, Bapak? Ini akan makin parah," bisik Ibu suatu malam sambil mengoleskan minyak kayu putih ke punggung Bapak yang kurus.
Bapak hanya terkekeh pelan, meskipun matanya terlihat sangat lelah.
"Tanggung Bu. Kontrakan bulan ini belum tertutup, dan buku tulis Anton pun sudah habis."
Ibu hanya bisa menghela napas panjang. Tidak ada yang bisa menolak ketika Bapak mengutamakan kebutuhan keluarga.
Malam yang Paling Kutakuti
Akhirnya, malam yang paling kutakuti itu tiba. Tanpa peringatan, napas Bapak tiba-tiba sesak hebat, sehingga Pak RT dan tetangga harus menggotongnya dengan mobil pick-up ke puskesmas terdekat. Lampu neon ruang IGD yang berkedip-kedip menjadi saksi bisu saat dokter akhirnya keluar sambil menggelengkan kepala.
Di dalam sana, di atas kasur busa yang dingin, genggaman tangan Bapak pada jariku perlahan mengendur. Kata-kata terakhirnya terdengar patah-patah, hampir tak terdengar di tengah suara tangis Ibu.
"Pintar sekali... bantu Ibu."
Gerobak Warisan Ayah
Hari-hari setelahnya terasa sangat sepi. Gerobak kayu milik Bapak teronggok di pojokan teras, basah kuyup oleh hujan dan tertutup debu. Setiap kali melihat mangkok-mangkok porselen bergambar ayam jago yang ditumpuk di sana, dadaku terasa sesak seolah dihantam batu besar.
"Bu, biarkan Anton yang mendorong gerobaknya sepulang sekolah," kataku dengan nekat suatu sore.
Ibu yang sedang mengelap meja, langsung, berhenti. Beliau menatapku agak lama, lalu menarik bahuku dan memelukku erat-erat. Bau minyak telon dan keringat Ibu terasa sangat hangat di pipiku.
"Jangan berkata seperti itu. Biar Ibu yang mengurus gerobaknya," suara Ibu terdengar agak serak.
"Tugasmu hanya satu: bersekolah dengan benar dan jangan sampai mengecewakan Bapak. Masalah beras di dapur adalah urusan Ibu."
Harapan yang Tetap Berjalan
Keesokan paginya, aku melihat pemandangan yang membuat mataku perih. Ibu, mengenakan celemek merah kusam milik Bapak dan rambut yang diikat asal-asalan, mulai mendorong gerobak kayu yang berat itu sendirian keluar gang. Langkahnya agak gemetar, tetapi beliau tetap berjalan tanpa menengok ke belakang.
Dari ambang pintu, aku terpaku melihat bayangan Ibu dan gerobak tua itu perlahan menjauh, menghilang di belokan jalan.
Hari itu aku menyadari bahwa gerobak itu lebih dari sekadar tempat jualan bakso. Gerobak itu menjadi penopang utama agar dapur kami tetap mengepul.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar