Rahasia di Balik Rumah
Pagi itu, Alex masih belum bisa menerima kenyataan. Pikiran dan gengsiaannya hancur berantakan setelah mengetahui kekasihnya, Aini, justru berpaling kepada seorang penjual bakso keliling bernama Anton.
"Siapa sebenarnya dia? Kok bisa-bisanya Aini jatuh cinta sama tukang bakso?" gumam Alex gusar sembari mengepalkan tangan.
Tak tahan digerogoti rasa penasaran, Alex memanggil dua anak buahnya.
"Ikuti pria itu. Cari tahu di mana dia tinggal dan jangan sampai ketahuan!" perintahnya tegas.
"Siap, Pak!"
Penyelidikan Alex
Sore harinya, kedua anak buah itu membuntutinya dari kejauhan. Begitu selesai berjualan, Anton mengendarai sepeda motornya menuju kawasan perumahan elite.
Kedua anak buah Alex saling berpandangan heran.
- "Lho, Pak... kok dia masuk kompleks rumah mewah?"
- "Paling cuma mau antar pesanan bakso," sahut yang satunya ragu.
Namun, dugaan mereka meleset. Anton justru menghentikan motornya di area belakang sebuah rumah megah. Ia membuka pintu kecil pagar belakang, lalu masuk begitu saja seolah-olah tempat itu adalah rumahnya sendiri.
"Wah, dia masuk ke dalam. Ayo kita laporkan ke Pak Alex!"
Alex Mendatangi Rumah Mewah
Keesokan paginya, Alex mendatangi rumah mewah tersebut dengan dada membusung. Tanpa ragu, ia mengetuk pagar depan cukup keras.
Tak lama, seorang wanita paruh baya berpenampilan amat sederhana keluar menyambutnya. Wanita itu adalah ibu Anton. Meski kini menetap di hunian megah, kesederhanaannya tak pernah luntur.
"Permisi, Nak. Ada yang bisa Ibu bantu?" tanyanya lembut.
Alex menjawab dengan nada angkuh.
"Saya mau ketemu sama pemilik rumah ini!"
Ibu Anton tersenyum ramah.
"Pemilik rumahnya sedang kerja di kantor, Nak. Biasanya kalau tidak terlalu sibuk, beliau pulang setelah zuhur."
Alex mengangguk sekilas.
"Ya sudah, bilang sama dia kalau nanti saya bakal datang lagi."
"Baik, Nak."
Alex berlalu pergi tanpa menyadari bahwa wanita yang baru saja ia pandang sebelah mata itu adalah ibu dari pria yang paling ia benci.
Anton Pulang Mengambil Berkas
Sementara itu di kantor, agenda Anton hari itu cukup padat. Menjelang siang, ia baru teringat ada dokumen penting yang tertinggal di rumah.
"Pak Dimas, saya izin pulang sebentar untuk mengambil berkas yang ketinggalan," kata Anton kepada manajer kepercayaannya.
Pak Dimas mengangguk sigap.
"Kalau begitu saya ikut saja, Pak. Nanti kita bisa langsung kembali ke kantor bersama."
"Boleh, mari."
Sesampainya di rumah, Anton bergegas masuk. Ibunya langsung menyambut di ruang tengah.
"Nak, tadi pagi ada anak muda yang datang mencari pemilik rumah."
"Oh ya? Kalau dia datang lagi, minta tunggu sebentar ya, Bu. Anton mau ambil berkas di kamar dulu."
Anton langsung melangkah ke lantai atas, sementara Pak Dimas dipersilakan duduk di ruang tamu.
Ibu Anton menyuguhkan secangkir teh hangat dan camilan.
"Silakan diminum tehnya, Pak."
"Terima kasih banyak, Bu," balas Pak Dimas sopan.
Baru saja Pak Dimas menyesap tehnya...
*Brak!* Pagar depan didorong kasar.
Alex melangkah masuk dengan wajah memerah menahan emosi.
"Mana pemilik rumah ini?! Keluar! Saya mau bicara!" teriak Alex lantang.
Fakta yang Mengejutkan Alex
Keributan itu membuat Pak Dimas terperanjat. Ia bergegas berdiri dan berjalan menuju teras. Namun, langkahnya terhenti seketika saat mengenali sosok di hadapannya.
"Alex?!"
Alex membelalak kaget.
"Lho... Ayah? Kok Ayah ada di sini?"
Pak Dimas menatap putranya dengan dahi berkerut.
"Kamu ngapain di sini marah-marah?"
"Aku cari pemilik rumah ini, Yah! Mau lapor kalau tukang kebunnya sudah kurang ajar merebut pacarku!"
"Tukang kebun?"
"Iya! Dia nyambi jualan bakso keliling. Pasti dia cuma tukang kebun di rumah mewah ini!" seru Alex berapi-api.
Pak Dimas menghela napas panjang.
"Lalu kamu sendiri ngapain ke sini?"
"Justru aku yang heran, Ayah ngapain di rumah orang?" balas Alex.
"Ayah ke sini mendampingi bos Ayah mengambil berkas."
"Bos?"
"Iya."
"Siapa bos Ayah?"
"Pemilik rumah ini. CEO tempat Ayah bekerja."
Darah Alex rasanya berhenti mengalir. Matanya membelalak lebar.
"CEO... tinggal di sini?"
Sebelum Alex sempat mencerna semuanya, terdengar langkah kaki ritmis mendekat dari arah tangga.
Anton berjalan turun mengenakan setelan jas eksekutif yang rapi lengkap dengan dasi, memegang sebuah map dokumen di tangannya.
Begitu menginjakkan kaki di ruang tamu, pandangan Anton dan Alex saling beradu.
"Ka... kamu?!" bisik Alex dengan wajah pucat pasi.
Anton menatap Alex dengan rasa terkejut yang sama besarnya.
"Alex?"
Suasana seketika hening mencekam. Alex berdiri mematung. Pria yang selama ini ia hina dan sepelekan sebagai penjual bakso, kini berdiri gagah sebagai pemimpin tertinggi perusahaan tempat ayahnya sendiri menggantungkan hidup.****

Tidak ada komentar:
Posting Komentar