Persembahan Pertama
Sejak malam di mana jenglot itu menuntut d*rah manusia, keheningan menyelimuti Sukarso dan Lastri. Keduanya paham betul bahwa langkah yang diambil ini akan merenggut ketenangan hidup mereka selamanya. Selama beberapa hari, mereka memilih menahan diri agar tidak gegabah. Darto masih terlalu sering terlihat di sekitar permukiman, berinteraksi dengan warga, dan mengurus usahanya. Peluang untuk mencegatnya tanpa memicu kecurigaan sama sekali belum terbuka.
Hingga suatu sore, celah itu akhirnya datang. Darto mendapat kabar soal urusan bisnis di luar desa dan menyampaikan kepada keluarganya bahwa ia harus pergi untuk beberapa hari. Kepergian ini terasa lumrah bagi siapa saja, mengingat Darto memang terbiasa bepergian demi urusan dagang. Namun kali ini, jalur yang ditempuh Darto justru membawanya ke area terpencil yang jauh dari jangkauan warga.
Di sana, Sukarso sudah bersiaga. Apa yang terjadi selanjutnya di tempat sunyi itu tersembunyi rapat dari dunia luar. Tidak ada warga yang melihat, pun tak ada suara yang sanggup menembus hingga ke pemukiman.
Saat malam kian pekat, Sukarso melangkah pulang dengan raut wajah yang tak lagi sama. Tangannya gemetar hebat tatkala memegang mangkuk yang beberapa malam terakhir terus membayangi pikirannya. Untuk pertama kali sejak menerima limpahan harta dari kamar rahasia itu, rasa takut yang luar biasa merayapi dada Sukarso—ia mendadak ngeri pada dirinya sendiri.
Ia tak memberi banyak penjelasan pada istrinya.
"Sudah?" tanya Lastri pelan.
Sukarso hanya mengangguk bisu.
Langkah kaki mereka kembali beranjak menuju kamar khusus, membiarkan pintu terkatup rapat di belakangnya. Mangkuk itu diletakkan tepat di hadapan jenglot. Seketika, atmosfer di ruangan itu berubah drastis; udara terasa begitu berat dan menghimpit. Meski sosok jenglot itu bergeming, Sukarso bisa merasakan ada sepasang mata gaib yang sedang mengawasinya.
Tak lama, bisikan yang amat ia kenali kembali bergaung di dalam benaknya.
"Akhirnya kau memenuhi janji."
Sukarso menunduk dalam-dalam. Bukannya lega, jurang ketakutan di dalam hatinya justru kian menganga.
"Jangan menyesal."
Sukarso memejamkan mata rapat-rapat.
"Darto adalah salah satu alasan keluargamu pernah sengsara."
Ia tetap bungkam.
"Dan sekarang, karena keberanianmu, kehidupan keluargamu menjadi kaya."
Rahasia yang Mulai Menghantui Sukarso
Kalimat itu bergaung seolah menjadi pembenaran atas dosa yang baru saja ia perbuat. Namun jauh di lubuk hatinya, Sukarso sadar bahwa ada garis batas yang telah melampaui titik balik.
Sementara itu, kediaman Darto masih diselimuti ketenangan yang keliru. Keluarganya mengira Darto sekadar menjalankan tugas bisnis rutin. Hari pertama berlalu tanpa kabar. Memasuki hari kedua, sang istri mulai dihinggapi keraguan.
"Kenapa belum pulang juga?"
Salah seorang anggota keluarganya mencoba menenangkan.
"Mungkin urusannya belum selesai."
Namun hingga hari ketiga mengikis, sosok Darto tak kunjung muncul. Kecemasan perlahan merayapi seisi rumah, meski belum ada yang menduga bahwa kepergiannya kali ini menempuh jalan yang sama sekali berbeda.
Di sudut desa yang lain, aktivitas Sukarso tampak berjalan seperti biasa. Ia makin giat berdagang, bahkan kini hampir dua hari sekali pergi meninggalkan desa sembari membawa simpanan emas dan perhiasan. Di mata warga, Sukarso hanyalah seorang saudagar yang sedang menikmati puncak kejayaannya.
Tidak ada yang menaruh curiga; ia tetap melempar senyum, menyapa tetangga, dan bertutur kata santun. Namun di balik topeng itu, jiwanya terguncang. Setiap kali mendengar derap langkah di belakangnya, Sukarso refleks menoleh gelisah. Tiap kali ada warga yang menanyakan kabar Darto, dadanya berdegup kencang. Bahkan saat memejamkan mata di malam hari, bayangan wajah Darto selalu hadir meneror pikirannya.
Hari demi hari berganti, rumah Darto kian dicekat kepanikan. Sambungan telepon tak pernah terhubung dan kabar tak kunjung datang. Pihak keluarga mulai menanyakan keberadaan Darto ke berbagai pihak, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada seorang pun yang melihat keberadaannya sejak ia melangkahkan kaki keluar desa.
Di balik kehidupan baru Sukarso yang makin bergelimang harta, tersembunyi rahasia kelam yang rapi terkubur—sebuah rahasia yang sewaktu-waktu siap meledak.
Perjanjian yang Belum Berakhir
Malam berikutnya, ketika melangkah kembali ke dalam kamar rahasia, Sukarso menatap jenglot itu dari kejauhan.
"Sudah cukup, kan?"
Hening.
Sukarso terpaku menunggu. Hingga kemudian, bisikan dingin itu kembali terngiang di dalam kepalanya.
"Belum."
Sukarso membeku di tempat. Ia menatap jenglot itu dengan tatapan tak percaya.
"Satu persembahan tidak akan membuat perjanjian berakhir."
Wajah Sukarso seketika pucat pasi. Pada detik itulah ia baru menyadari kenyataan pahit... selama ini ia bukannya membeli kekayaan, melainkan sedang menyerahkan nyawa dan kehidupannya sedikit demi sedikit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar