Kebahagian Yang Kembali Terusik
Waktu terus berjalan, dan toko emas milik Sukarso mendadak makin dibanjiri pembeli.
Sama sekali tak pernah terpikir olehnya kalau tempat yang awalnya cuma dipakai sebagai topeng demi menutupi asal-usul kekayaannya itu malah menjelma jadi ladang bisnis yang benar-benar menghasilkan. Dagangan emas di tokonya laku keras. Mulai dari cincin, kalung, gelang, sampai perhiasan berukuran kecil untuk kado, semuanya dilahap konsumen.
Toko Emas Sukarso Makin Ramai Pembeli
Meski ukurannya tergolong sedang, tampilan tokonya cukup meyakinkan. Posisinya strategis, plus ada lahan parkir khusus di area depan yang bikin para pelanggan betah. Melihat perkembangan pesat itu, terlintas di benak Sukarso kalau ini saat yang tepat untuk mulai mengisi etalase menggunakan pasokan emas dari jalur yang legal dan jelas. Tanpa ragu, untuk pertama kalinya ia memborong emas dalam jumlah besar dari salah satu toko perhiasan ternama di pusat kota. Langkah ini sukses membuat etalase tokonya terlihat jauh lebih padat dan meyakinkan. Benda berkilau di sana kini bukan lagi sekadar pasokan yang ia dapat dari jalur rahasia. Sukarso berniat menjadikan usahanya benar-benar tampak seperti tempat transaksi perhiasan pada umumnya. Ia butuh alibi kuat kalau sewaktu-waktu ada pihak yang mempertanyakan dari mana asal-usul emas yang ia jual.
Di sela-sela mengurus kesibukan toko, bayangan tentang Jaya juga melintas di kepalanya. Selama ini Jaya sudah amat banyak membantu. Pria itu paham betul seluk-beluk bisnis jual-beli emas dan punya integritas tinggi saat dipercaya memegang toko sewaktu Sukarso sedang ada urusan di luar. Suatu sore, saat suasana toko mulai senggang, Sukarso memanggil Jaya untuk mengobrol santai.
“Jay, kamu masih tinggal di kontrakan itu?” tanya Sukarso.
“Iya, Pak. Kenapa?”
Pandangan Sukarso mengarah ke sudut belakang tokonya. Di sana memang ada ruangan yang lumayan lapang dan selama ini terbengkalai begitu saja.
“Daripada kamu terus buang uang buat bayar kontrakan, bagaimana kalau kamu tinggal di belakang toko saja?”
Jaya mendadak bungkam.
“Maksudnya tinggal di sini, Pak?”
“Iya. Ruangannya masih cukup besar. Kamu bisa tinggal bersama istrimu. Sekalian jaga toko kalau malam.”
Jaya tak langsung mengiyakan. Ia sadar penawaran ini amat menguntungkan, tapi tentu saja hal sebesar ini wajib ia rundingkan dulu dengan sang istri. Begitu malam tiba, Jaya membeberkan tawaran tersebut pada istrinya. Awalnya sang istri sempat diliputi keraguan. Namun setelah menghitung-hitung kondisi keuangan mereka, persetujuan pun akhirnya didapat. Tugas mereka relatif mudah, cuma perlu memboyong barang-barang penting saja. Lagipula, anak mereka yang sudah duduk di bangku SMP tidak akan kemudahan mengakses sekolah karena jaraknya lumayan dekat dari toko.
Hanya berselang beberapa hari, keluarga kecil Jaya resmi menempati ruangan di area belakang toko tersebut. Bagi Jaya sendiri, bantuan ini bak angin segar yang memangkas himpitan beban finansialnya. Tak perlu lagi pusing memikirkan uang sewa kontrakan yang menyedot gaji tiap bulan. Sebagai imbal baliknya, ia mengabdi untuk menjaga keamanan toko Sukarso.
Kehidupan Sukarso Berubah Setelah Memiliki Toko Emas
Sejak momen itu, toko emas ini tak sekadar menjelma jadi tempat mengais rezeki. Di bagian belakangnya, ada sebuah keluarga kecil yang sedang merajut asa dan lembaran hidup baru.
Di sisi lain, Sukarso makin betah dan sering menghabiskan waktu di toko. Ada perasaan aneh yang mengganjal; tiap kali menjejakkan kaki di sana, pikirannya mendadak jauh lebih tenang dan damai. Riuh suara pembeli yang bertransaksi, derit pintu toko yang keluar-masuk, obrolan ramah Jaya saat melayani konsumen, hingga kesibukan merapikan inventaris dan menghitung lembaran uang sukses mengalihkan fokus kepalanya.
Saat berada di toko, Sukarso sanggup melupakan bayang-bayang rumahnya. Ia bisa sejenak lepas dari tumpukan masalah yang pernah mengguncang kehidupan keluarganya. Bahkan untuk beberapa saat, ia sanggup membuang jauh memori tentang sebuah ruangan tertutup di rumahnya. Sebuah kamar rahasia yang menyimpan benda pembawa perubahan besar dalam hidupnya.
J**glot. Sukarso sadar betul kalau makhluk mistis itu masih bercokol di sana. Ia tahu persis urusannya belum benar-benar selesai. Namun tiap kali menginjakkan kaki di toko, ia memilih untuk bersikap masa bodoh dan berpura-pura lupa.
“Hitung-hitung buat nenangin pikiran,” gumamnya lirih pada suatu sore.
Keseharian Sukarso perlahan tampak kembali layaknya kehidupan orang normal pada umumnya. Ia menyaksikan tokonya kian hari kian disesaki pengunjung. Ia melihat raut lega Jaya yang mulai menikmati masa-masa tinggal bersama anak istrinya di belakang toko. Ia juga mengamati Lastri yang tak lagi sering mengeluh urusan uang dapur. Bahkan Rian dan Sari kini bisa memfokuskan pikiran untuk belajar di sekolah tanpa beban.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama tenggelam dalam ketakutan, Sukarso merasa kalau ia mungkin benar-benar telah menggenggam ketenangan hidup yang selama ini ia impikan.
Jenglot Kembali Menagih Tumbal
Malam itu, seusai merapikan dan mengunci toko, Sukarso pulang jauh lebih larut dibanding biasanya. Sepanjang jalan pulang, bibirnya bahkan sempat menyunggingkan senyum tipis. Rasa waswas itu menguap. Tak ada bentakan atau suara aneh yang mengganggu. Tak ada bayangan kelam dari masa lalu yang membayanginya.
Sayangnya, begitu kakinya melangkah masuk menembus pintu rumah, ketenangan itu seketika luntur. Atmosfer rumah terasa jauh lebih lengang dan mencekam dibanding biasanya. Sukarso berjalan perlahan menyusuri ruang tengah. Lastri dan anak-anaknya sudah terlelap dalam tidur nyenyak. Tepat saat ia hendak melangkah masuk ke kamarnya, mendadak kakinya terpaku kaku.
Dari arah ruangan terlarang itu, samar-samar terdengar sebuah bisikan halus. Suaranya amat pelan. Mirip seperti desisan seseorang yang sedang berbisik misterius.
Pandangan Sukarso tertuju lurus pada daun pintu ruangan tersebut. Detak jantungnya mendadak berpacu hebat memompa darahnya. Ia sangat mengenali asal suara itu. Sebuah intonasi ghaib yang belakangan ini mati-matian berusaha ia hapus dari ingatannya.
Sukarso mendadak membeku di tempat, tak sanggup bergerak sedikit pun. Tak lama kemudian, desisan misterius itu kembali menggema. Kali ini terdengar jauh lebih tegas dan jelas.
“Sukarso...”
Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku bagai batu. Ia bersusah payah menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan sambil terus menatap pintu yang masih terkuak rapat.
Beberapa detik berlalu, dan suara dingin itu kembali terngiang. Namun kali ini bukan sekadar bisikan yang memanggil namanya. Ada sebuah tuntutan mengerikan yang seketika menyapu bersih seluruh senyuman bahagia Sukarso sepanjang hari.
J**glot itu kembali menagih t*mbal. Di detik itulah Sukarso akhirnya tersadar penuh, kedamaian dan kebahagiaan yang ia rengkuh selama ini ternyata cuma fatamorgana semata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar