Logo Pojok Novel Pojok Novel

Pesugihan Jenglot Bab 2: Pintu Kegelapan


Pintu Kegelapan


Pintu Kegelapan

Sejak Pak Wira pergi meninggalkan rumahnya malam itu, kata-kata lelaki tua itu terus memutari pikiran Sukarso.

Setiap kekayaan yang didapat terlalu instan pasti menuntut bayaran mahal.

Awalnya, Sukarso berusaha keras mengabaikan ingatan itu. Ia menganggap gertakan Pak Wira cuma ocehan dukun tua yang sengaja ingin menakut-nakutinya.

Namun, kian hari roda kehidupan keluarganya justru makin merosot ke bawah. Fisik Sukarso memang berangsur membaik, tapi masalah lain malah beruntun berdatangan.

Buntut dari tuduhan pencurian kemarin, warga desa mulai menjauhinya. Tetangga yang dulu sering mampir kini mendadak membuang muka. Bahkan saat Sukarso melintas, bisik-bisik sengaja disaringkan di telinganya.

"Orang kayak gitu mah kalau udah kepepet, apa aja dilakoni."

Sukarso cuma bisa menunduk dalam. Rasanya ingin sekali ia berteriak dan membela diri bahwa ia bukan pencuri. Tapi buat apa? Kepada siapa ia harus mengadu?

Darto tetap pada tuduhannya, dan tak ada satu orang pun yang mau peduli mencari kebenaran.

Pekerjaannya di kebun kian menipis. Beberapa hari ia cuma mendapat bagian pekerjaan ringan dengan upah serba tanggung. Persediaan beras di dapur kian kritis.

Suatu malam, Lastri tampak sibuk menghitung sisa lembaran uang di atas tikar. Sukarso yang merenung di ambang pintu menoleh saat istrinya memanggil.

"Mas..."

"Kenapa?"

"Besok uang kita tinggal segini."

Lastri menyodorkan beberapa lembar uang lusuh. Sukarso menatap lembaran itu cukup lama, lalu menghela napas berat.

"Besok saya cari kerja tambahan."

"Masih kuat?"

"Saya harus kuat."

Lastri terdiam. Dari arah kamar, samar-samar terdengar napas halus anak-anak mereka yang tertidur lelap.

Sukarso memandangi wajah polos Rian dan Sari. Dada Sukarso terasa makin sesak.

Seketika, bayangan Pak Wira mendadak melintas kembali di pikirannya.

*Kalau kamu ingin kaya... saya bisa membantu.*

Sukarso mengusap wajahnya kasar. Ia sadar betul jalan yang ditawarkan Pak Wira bukanlah jalan yang benar. Tapi keadaan terus menghimpitnya tanpa ampun.

Ia hanya ingin keluarganya hidup layak, anak-anaknya tak lagi malu karena baju rombeng, dan rumah mereka bisa diperbaiki.

Di samping itu, ada dendam terselubung yang makin mengakar: ia ingin membuktikan pada semua orang bahwa dirinya bukan orang murahan yang bisa diremehkan begitu saja.

Beberapa hari kemudian, keputusannya bulat. Pagi-pagi sekali sebelum berangkat kerja, ia melangkah menuju rumah Pak Wira di ujung desa.

Letaknya terpencil, berbatasan langsung dengan rimbunnya hutan liar.

Tok... tok...

Tak ada sahutan. Sukarso mencoba mengetuk lagi.

"Pak Wira?"

Langkah kaki terdengar dari dalam, disusul pintu yang terkoyak terbuka.

Pak Wira berdiri di sana, menatap Sukarso seolah sudah menebak kedatangannya.

"Masuk."

Sukarso duduk bersila di lantai, berhadapan langsung dengan Pak Wira.

"Akhirnya kamu datang."

Sukarso menunduk.

"Saya sudah berpikir beberapa hari."

Pak Wira bergeming.

"Saya ingin mengubah hidup saya, Pak."

"Yakin?"

Sukarso mengangguk mantap.

"Saya sudah bulat."

Pak Wira memandangi wajah Sukarso dalam-dalam.

"Jangan menjawab karena sedang marah."

"Saya tidak marah."

"Jangan karena sakit hati."

Sukarso membisu.

"Dan jangan karena ingin membalas orang yang sudah menyakitimu," lanjut Pak Wira.

Sukarso mendongak.

"Saya cuma ingin keluarga saya hidup layak."

Pak Wira menarik napas panjang.

"Kalau begitu, pikirkan sekali lagi."

"Saya sudah memikirkannya."

"Kalau kamu mundur sekarang, tidak ada masalah."

"Saya tidak akan mundur."

Pak Wira terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Baik."

Lelaki tua itu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil berselimut kain. Benda itu sengaja dibiarkan tertutup.

"Kamu datang lagi malam Jumat besok."

"Jam berapa, Pak?"

"Setelah matahari menyingsing di hari Kamis agar tidak terlambat pas menjelang sore, kita melakukan perjalanan jauh."

"Saya harus membawa apa?"

Pak Wira lantas membeberkan apa saja yang perlu dibawa Sukarso, termasuk bekal makanan.

Sukarso mengangguk paham.

Saat Sukarso bersiap beranjak, Pak Wira menyela, "Dan satu lagi."

Sukarso tertahan di ambang pintu.

"Jangan ceritakan kepada siapa pun tentang apa yang akan kamu lakukan."

"Baik, Pak."

Hari yang ditentukan pun tiba. Sejak pagi Sukarso menyiapkan segalanya: bekal makanan, peralatan sederhana, hingga sesajen sesuai instruksi Pak Wira.

Menjelang siang, ia sudah sampai di rumah Pak Wira yang ternyata sudah bersiap.

"Kamu siap?"

"Siap."

"Kalau begitu berangkat."

Mereka berjalan kaki melangkah makin jauh meninggalkan pemukiman. Suara keramaian warga melenyap, berganti desir angin dan derap langkah kaki menembus dedaunan.

Masuk lebih dalam ke belantara hutan, pepohonan rimbun memblokir sinar matahari sore.

Sukarso sempat menoleh ke belakang.

"Masih jauh, Pak?"

"Sebentar lagi."

Perjalanan berakhir di sebuah bukit kecil. Di sana menjulang pohon raksasa dengan batang amat lebar dan akar menjalar mengular ke mana-mana.

Namun yang ganjil, di dasar batangnya terdapat lubang besar berisi genangan air. Meski tanah di sekitarnya kering kerontang, air di lubang itu tetap tergenang tenang—tanpa ada daun mengapung, tanpa ada serangga yang mendekat.

Sukarso mematung beberapa langkah dari pohon itu.

"Di sini?"

Pak Wira mengangguk.

"Di sini."

Ia lalu menunjuk titik yang harus dipakai Sukarso untuk bertapa.

"Mulai nanti sore, kamu duduk di sini."

"Sendirian?"

"Ya."

"Berapa lama?"

"Ikuti waktunya."

Pak Wira membeberkan ritual malam itu. Pada waktu tertentu Sukarso harus bersemedi, lalu di sela-selanya ia wajib membersihkan area sekitar pohon dan menata batu-batu kecil melingkar.

Sukarso menyimak tiap detailnya.

Pak Wira juga mengajarkan beberapa mantra khusus.

"Jangan salah."

"Saya akan mengingatnya."

"Kalau mendengar suara apa pun, jangan menoleh."

Sukarso menelan ludah berat.

"Kalau ada orang?"

"Jangan menoleh."

"Kalau ada yang memanggil nama saya?"

Pak Wira menatapnya tajam.

"Terutama kalau ada yang memanggil namamu."

Sukarso terbungkam.

Pak Wira berdiri perlahan.

"Jalankan semuanya sampai selesai."

"Pak Wira tidak menunggu?"

"Saya harus kembali."

Sukarso menatapnya cemas.

"Sendirian?"

Pak Wira tersenyum tipis.

"Kamu sendiri yang memilih jalan ini."

Selesai berkata, Pak Wira melangkah pergi membelakangi lokasi dan berangsur hilang di balik pepohonan.

Sukarso kini benar-benar menyendiri.

Matahari perlahan tenggelam, menenggelamkan hutan dalam kegelapan.

Sukarso mulai merapikan tempatnya, menyapu daun-daun kering, dan mengumpulkan batu kecil untuk disusun melingkar.

Tangannya terus bekerja tanpa henti.

Tepat pukul enam sore, Sukarso duduk bersila dan memejamkan mata.

Ia memanggil kembali petunjuk Pak Wira.

Di tengah desir angin malam, Sukarso mulai melantunkan mantra yang diajarkan.

Satu jam berlalu tanpa ia membuka mata sedikit pun.

Setelahnya, ia kembali merapikan batu.

Suasana kian sunyi mencekam.

Tiba-tiba, saat ia sedang menyusun batu, suara ranting patah mengejutkannya dari belakang.

*Krek.*

Sukarso terpaku.

*Jangan menoleh,* ingatnya.

Ia memaksa jemarinya terus menyusun batu.

Beberapa saat kemudian, berembus suara langkah kaki pelan mengitarinya.

Sukarso mematung.

Langkah itu berhenti tepat di belakang tengkuknya, menyisakan keheningan mencekam.

Sukarso menahan napas sampai akhirnya suara itu perlahan menguap hilang.

Pukul sembilan malam, waktunya semedi kedua.

Udara di sekitar pohon mendadak merosot dingin, membuat tubuh Sukarso bergetar hebat.

Saat ia memejamkan mata dan mulai melafalkan doa, sebuah suara perempuan berbisik lirih.

"Karso..."

Sukarso tersentak.

Suara itu terasa teramat dekat.

"Karso..."

Suara Lastri.

Jantung Sukarso bertabuh kencang, tapi logikanya tahu sang istri tak mungkin ada di hutan ini.

Ia bergeming dengan mata terpejam rapat.

Tak lama, bisikan itu berganti menjadi suara anak kecil.

"Pak..."

Sukarso hampir membelalakkan mata, tapi ia sekuat tenaga menahannya.

*Jangan menoleh. Jangan menjawab.*

Satu jam terasa bagai keabadian sampai akhirnya suara-suara itu lenyap begitu saja.

Pukul dua belas malam, hutan gulita sepenuhnya.

Suasana makin liar—suara helak tawa pelan dari kejauhan, desir daun yang tak wajar, hingga derap langkah acak.

Tapi Sukarso enggan menyerah.

Ia tak mau kembali menjadi gembel yang terus dihina.

Saat ia membuka mata satu jam kemudian, tak ada apa-apa di sana.

Hanya pohon tua dan genangan air yang anehnya tetap tenang.

Sukarso lanjut menyapu daun dan menata batu hingga matanya berat dan punggungnya pegal luar biasa.

Menjelang pukul tiga dini hari, ia duduk untuk semedi terakhir.

*Byur!*

Suara kepakan air memecah hening.

Sukarso membuka mata dan mendapati permukaan air di lubang pohon beriak hebat tanpa angin.

Riak kecil itu membesar, sebelum akhirnya perlahan tenang kembali.

Sukarso menarik napas panjang, lalu kembali memejamkan mata.

Ia membuang bayangan Darto, perlakuan warga, dan penderitaannya.

Yang tersisa di benaknya cuma senyum Lastri serta masa depan Rian dan Sari.

Tekad itu membakar rasa takutnya.

Ketika semedi selesai, fajar mulai menyingsing di ufuk timur.

Kicau burung hutan samar-samar terdengar.

Sukarso memandangi susunan lingkaran batu yang telah rapi.

Namun saat hendak berdiri, matanya menangkap sebuah objek asing di dekat lubang pohon.

Sebuah benda kecil berwarna gelap tergeletak tepat di tepi genangan.

Sukarso terpaku, tak berani mendekat.

Rasa sesak mendadak menekan dadanya.

Untuk pertama kalinya malam itu, Sukarso sadar bahwa ia tak sekadar melakukan ritual—ia baru saja membuka sebuah pintu kegelapan yang mungkin tak akan pernah bisa ia tutup lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar