Harga Sebuah Kemiskinan
![]() |
Desa Sukaresa selalu tampak tenang menjelang pagi. Kabut tipis menggantung di antara pohon-pohon kelapa. Suara ayam berkokok bersahutan dari halaman rumah warga, sementara embun masih menempel di ujung daun singkong yang tumbuh liar di pinggir jalan.
Namun, bagi Sukarso, pagi bukanlah waktu untuk menikmati ketenangan. Setiap hari, sebelum matahari muncul sepenuhnya, lelaki itu sudah harus berangkat menuju perkebunan kelapa milik seorang juragan kaya di ujung desa.
Usianya belum terlalu tua. Tetapi kemiskinan dan kerasnya pekerjaan membuat wajah Sukarso terlihat jauh lebih tua daripada usia sebenarnya.
Ia tinggal di sebuah rumah sederhana bersama istrinya, Lastri, serta dua anak mereka, Rian dan Sari.
Rumah itu tidak besar. Dindingnya masih terbuat dari papan yang mulai lapuk, sedangkan sebagian gentengnya sudah bergeser dan sering bocor ketika hujan turun.
Meski begitu, ada satu hal yang selalu membuat Sukarso bersyukur. Keluarganya masih lengkap.
Mereka memang tidak punya banyak uang. Makan seadanya. Pakaian pun kebanyakan merupakan pemberian orang lain.
Tetapi di rumah kecil itu, mereka masih bisa tertawa bersama.
"Pak, sarapannya sudah siap."
Suara Lastri membuyarkan lamunan Sukarso.
Sukarso yang sedang memasukkan golok dan tali ke dalam karung menoleh.
"Nasihnya cuma segitu, Bu?"
Lastri tersenyum kecil.
"Memangnya mau saya sulap jadi banyak?"
Sukarso tertawa pelan.
"Bukan begitu."
Ia kemudian duduk di lantai bambu bersama keluarganya.
Di atas piring hanya ada nasi, sambal, dan telur dadar tipis yang sengaja dipotong menjadi empat bagian.
Satu untuk dirinya. Satu untuk Lastri. Dua sisanya untuk Rian dan Sari.
Sukarso sebenarnya masih lapar. Tetapi melihat kedua anaknya makan dengan lahap, rasa lapar itu seperti hilang dengan sendirinya.
"Pak."
Sari tiba-tiba memanggil.
"Iya?"
"Kalau Sari besar nanti, Sari mau belikan Bapak rumah baru."
Sukarso terdiam.
Kemudian ia tersenyum sambil mengusap kepala anak perempuannya.
"Kenapa rumah baru?"
"Rumah kita bocor terus."
Rian ikut tertawa.
"Kalau hujan, kita semua pindah tidur ke dapur."
Lastri menutup mulutnya menahan tawa.
Sukarso hanya bisa menggeleng.
"Ya sudah. Kalau begitu, Bapak harus menunggu Sari sukses dulu."
"Sari pasti sukses!"
Anak itu menjawab penuh keyakinan.
Sukarso tersenyum.
"Semoga."
Saat itu, ia belum tahu bahwa kebahagiaan kecil seperti itulah yang kelak akan menjadi sesuatu yang paling ia rindukan.
───
Hari-hari Sukarso berjalan seperti biasa. Pagi bekerja di perkebunan kelapa. Siang memanjat pohon, membersihkan kebun, mengangkut kelapa, dan melakukan pekerjaan apa pun yang diperintahkan juragan. Sore pulang dengan tubuh penuh keringat.
Upahnya tidak seberapa. Cukup untuk makan beberapa hari, membayar kebutuhan sekolah anak, dan membeli sedikit kebutuhan rumah.
Jika ada keperluan mendadak, mereka harus berutang.
Di perkebunan itu, Sukarso sebenarnya memiliki seorang teman bernama Darto. Mereka sudah saling mengenal sejak lama.
Darto berbeda dengan Sukarso. Kehidupannya jauh lebih baik. Rumahnya besar. Ia mempunyai kendaraan sendiri dan beberapa bidang tanah peninggalan orang tuanya.
Dulu, Darto sering mengajak Sukarso berbincang. Namun sejak kehidupan Darto semakin berada, sikapnya berubah. Ia mulai memandang Sukarso sebelah mata.
"Kalau hidupmu mau berubah, jangan cuma jadi buruh, Kar."
Begitu ucapan Darto suatu hari.
Sukarso hanya tersenyum.
"Mau bagaimana lagi?"
"Ya cari pekerjaan lain."
"Kalau ada yang lebih baik, tentu saya ambil."
Darto tertawa kecil.
"Alasan orang miskin memang selalu begitu."
Sukarso diam.
Tangannya mengepal. Namun ia memilih pergi.
Selama ini ia selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan siapa pun. Ia tidak ingin anak-anaknya melihat ayah mereka menjadi orang yang suka bermusuhan.
Tetapi di dalam hati, perlahan tumbuh sesuatu yang tidak pernah ia akui.
Kebencian.
Bukan karena Darto kaya. Melainkan karena Darto selalu membuatnya merasa tidak berharga hanya karena dirinya miskin.
───
Suatu sore, keberuntungan kecil datang kepada Sukarso.
Juragan perkebunan memberikan bonus karena hasil panen bulan itu cukup bagus.
Tidak banyak. Namun bagi Sukarso, uang itu terasa seperti rezeki besar.
Sepanjang perjalanan pulang, ia terus membayangkan wajah kedua anaknya.
Sesampainya di pasar desa, Sukarso membeli dua stel pakaian baru. Satu untuk Rian. Satu untuk Sari.
Ia juga membeli kain sederhana untuk Lastri.
"Pak, ini buat siapa?"
Lastri bertanya ketika melihat bungkusan yang dibawa suaminya.
"Untuk kalian."
Mata Lastri langsung berkaca-kaca.
"Kenapa beli begini?"
"Bonus."
Sukarso tersenyum.
"Jarang-jarang kita bisa beli pakaian baru."
Rian dan Sari langsung berebut membuka bungkusan.
"Ini punya aku?"
"Iya."
"Benar?"
"Benar."
Malam itu rumah kecil mereka dipenuhi tawa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sukarso merasa kehidupannya tidak terlalu buruk.
Sayangnya, kebahagiaan itu hanya bertahan semalam.
───
Keesokan harinya, desa Sukaresa mendadak gempar.
Sukarso baru saja pulang dari perkebunan ketika beberapa warga menghampirinya.
"Sukarso!"
Ia berhenti.
"Ada apa?"
Seorang lelaki menarik lengannya.
"Kamu ikut kami."
"Ke mana?"
"Balai desa."
Sukarso kebingungan.
Sesampainya di sana, ia melihat Darto sudah berdiri di tengah kerumunan. Wajahnya terlihat marah.
"Itu orangnya!"
Darto menunjuk Sukarso.
"Dia yang mengambil uang saya!"
Sukarso terpaku.
"Apa?"
"Jangan pura-pura tidak tahu!"
"Saya tidak mengerti maksudmu."
Darto kemudian mengatakan bahwa sejumlah uang miliknya hilang dan menuduh Sukarso sebagai pelakunya.
Sukarso mencoba menjelaskan.
"Saya tidak pernah masuk ke rumahmu."
"Bohong!"
"Saya bersumpah."
Namun tuduhan yang sudah menyebar jauh lebih cepat daripada kebenaran.
Beberapa warga mulai berbisik.
"Memang Sukarso sedang butuh uang."
"Katanya kemarin baru dapat bonus."
"Mungkin karena terdesak."
Sukarso menatap orang-orang di sekelilingnya.
Orang-orang yang selama ini mengenalnya.
Orang-orang yang dulu sering ia bantu.
Tetapi hari itu, tidak seorang pun membelanya.
Ia pulang dalam keadaan babak belur setelah beberapa warga menghajarnya karena emosi.
Tidak ada bukti yang jelas. Tidak ada kesempatan baginya untuk membela diri.
Yang tersisa hanya rasa sakit dan malu.
Lastri menangis ketika melihat kondisi suaminya.
"Mas..."
Sukarso tidak menjawab.
Ia hanya berbaring di atas ranjang kayu tua yang sudah berbunyi setiap kali tubuhnya bergerak.
Anak-anak mereka duduk di sudut ruangan.
Tidak ada yang berani berbicara.
Malam semakin larut.
Sukarso menatap langit-langit rumah yang dipenuhi noda air.
"Kenapa hidup kita begini, Las?"
Lastri duduk di sampingnya.
"Sudahlah. Jangan dipikirkan."
"Saya tidak mencuri."
"Saya tahu."
"Tapi tidak ada yang percaya."
Lastri menggenggam tangan suaminya.
"Allah tahu siapa yang benar."
Sukarso memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa lelah bukan karena pekerjaan.
Melainkan karena hidup.
Tubuhnya sakit. Kepalanya berdenyut. Tetapi yang paling sakit adalah hatinya.
Mereka bahkan tidak punya uang untuk membawanya ke puskesmas.
Setelah cukup lama terdiam, Sukarso berkata pelan.
"Las."
"Iya?"
"Besok panggilkan orang tua itu."
"Siapa?"
"Yang tinggal di pinggir desa."
Lastri langsung tahu siapa yang dimaksud.
"Pak Wira?"
Sukarso mengangguk.
Pak Wira dikenal warga sebagai seorang dukun tua yang tinggal sendirian di sebuah rumah kecil dekat batas desa.
Sukarso sebenarnya tidak terlalu dekat dengannya.
Mereka hanya sering berpapasan ketika Sukarso berangkat atau pulang kerja.
Namun beberapa kali Pak Wira pernah menyapa dan menanyakan keadaan keluarganya.
"Saya tidak punya uang untuk berobat," kata Sukarso.
"Siapa tahu dia bisa membantu."
Lastri mengangguk.
"Besok saya panggil."
───
Malam berikutnya, Pak Wira datang.
Lelaki tua itu membawa sebuah tas kain hitam kecil.
Ia duduk di samping ranjang dan memeriksa keadaan Sukarso.
"Bagian sini sakit?"
Sukarso mengangguk.
"Kalau yang ini?"
"Masih sakit."
Pak Wira kemudian mengoleskan ramuan pada bagian tubuh Sukarso yang memar.
Aroma daun dan akar memenuhi ruangan.
Beberapa saat tidak ada percakapan.
Sampai akhirnya Pak Wira berkata,
"Kasihan kamu, Kar."
Sukarso menatapnya.
"Kenapa?"
"Keluargamu."
Pak Wira memandang Lastri dan kedua anaknya.
"Mereka hidup susah bukan karena kamu malas."
Sukarso terdiam.
"Tapi karena nasib."
Kata-kata itu membuat Sukarso menarik napas panjang.
"Nasib saya memang buruk, Pak."
Pak Wira tidak langsung menjawab.
Ia memasukkan kembali beberapa ramuan ke dalam tas.
Kemudian menatap Sukarso cukup lama.
"Kalau kamu ingin mengubah nasib..."
Sukarso mengangkat kepala.
"Memangnya bisa?"
Pak Wira tersenyum tipis.
"Ada jalan."
Lastri yang sejak tadi duduk di dekat pintu ikut memperhatikan.
"Jalan apa, Pak?"
Pak Wira tidak menjawab pertanyaan itu.
Ia justru mendekatkan wajahnya kepada Sukarso.
"Tapi jalan itu bukan jalan biasa."
Suasana kamar mendadak terasa berbeda.
Angin malam menyusup melalui celah dinding papan.
Lampu minyak di sudut kamar tiba-tiba bergoyang meskipun jendela tertutup.
Sukarso menelan ludah.
"Jalan apa?"
Pak Wira menatapnya tanpa berkedip.
"Kalau kamu benar-benar ingin kaya..."
Ia berhenti sejenak.
"...saya bisa membantu."
Sukarso terdiam.
Di dalam pikirannya terbayang rumah yang lebih layak.
Anak-anaknya bisa sekolah tanpa harus memikirkan uang.
Lastri tidak perlu lagi menghitung beras setiap pagi.
Tidak perlu lagi berutang kepada tetangga.
Dan yang paling penting...
Tidak ada lagi orang yang merendahkan keluarganya hanya karena mereka miskin.
Sukarso mengepalkan tangan.
"Apa syaratnya, Pak?"
Pak Wira tersenyum.
Senyum yang entah mengapa membuat bulu kuduk Sukarso berdiri.
"Besok malam datanglah ke rumah saya."
"Sendirian?"
"Sendirian."
"Untuk apa?"
Pak Wira berdiri sambil membawa tas hitamnya.
"Nanti kamu akan tahu."
Sebelum keluar, ia berhenti di ambang pintu.
Tanpa menoleh, lelaki tua itu berkata,
"Tapi ingat, Karso..."
Sukarso menatap punggungnya.
"Setiap kekayaan yang datang terlalu cepat..."
Pak Wira menoleh perlahan.
"...selalu punya harga."
Pintu kemudian tertutup.
Sukarso masih memandang ke arah pintu.
Ia belum tahu apa yang dimaksud lelaki tua itu.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, sebuah nama yang belum pernah ia dengar sebelumnya mulai menghantui pikirannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar