Logo Pojok Novel Pojok Novel

Hutang yang Tak Pernah Lunas - Pesugihan Jenglot Bab 13

Hutang yang Tak Pernah Lunas


Hutang yang Tak Pernah Lunas

Setelah memastikan area sekitar benar-benar sepi dan aman dari penglihatan orang, Sukarso akhirnya memantapkan keputusan.

Ia menatap lurus ke arah tukang kebun yang sejak tadi berdiri di dekatnya dengan raut wajah penuh bingung.

“Pak Sukarso, sebenarnya kita mau ke mana?”

Sukarso memilih untuk membisu.

Di dalam benaknya, bayangan wajah Lastri, Rian, dan Sari mendadak berkelebat. Ia sadar betul bahwa apa yang hendak digelarnya ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, rasa takut yang membakar dada terhadap ancaman jenglot jauh melampaui keberaniannya untuk menolak.

Secara tiba-tiba, Sukarso melancarkan gerakan mendadak.

Tukang kebun itu terlonjak kaget. Sama sekali tak terlintas di pikirannya bahwa pria yang kerap menyapa dengan ramah itu bisa berubah drastis dalam sekejap mata.

“Apa yang Bapak lakukan?”

Sambil berusaha mundur dan memberikan perlawanan, ia berteriak panik, “Kenapa, Pak? Saya salah apa?”

Sukarso tetap bungkam, tak membalas sepatah kata pun.

Pergulatan sengit dan m*mb*n*h pertahanan diri pun meletus di sudut sunyi itu. Si tukang kebun terus sekuat tenaga membela diri karena sama sekali tak paham alasan di balik serang*n mendadak Sukarso.

Namun, Sukarso merasakan sebuah dorongan aneh mengaliri tubuhnya. Kekuatan gaib yang sebelumnya ditransfer oleh jenglot seolah bangkit secara otomatis. Pada akhirnya, Sukarso berhasil m*ng*l*hk*n dan menguasai keadaan.

Saat segalanya telah usai, keheningan kembali menyelimuti tempat itu. Sukarso berdiri terpaku dengan napas memburu dan terengah-engah. Ia menatap ke arah hasil perbuatannya dengan gumpalan perasaan yang teramat rumit. Tidak ada sedikit pun rasa puas atau kemenangan di hatinya—hanya kengerian mendalam yang tersisa.

Meski begitu, ia sadar ini barulah awal. Dengan penuh kewaspadaan, ia bergegas meninggalkan lokasi tersebut, berusaha setengah mati agar jejaknya tak tercium siapapun.

Pesugihan Jenglot dan Persembahan

Sesampainya di rumah, langkah Sukarso langsung mengarah ke kamar khusus. Ia menjinjing wadah yang sebelumnya telah disiapkan oleh jenglot. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia menyerahkan persembahan yang diminta.

Beberapa saat berlalu dalam kesunyian. Sukarso menunggu dengan dada berdebar.

Hingga akhirnya, gema suara itu terdengar.

“Bagus.”

Sukarso memejamkan mata rapat-rapat. Sekali lagi, ia berhasil menuntaskan keinginan jenglot. Untuk sesaat, helaan napas lega sempat terlepas dari dadanya.

Namun, sebelum rasa tenang itu benar-benar mampir, suara jenglot kembali memecah keheningan.

“Seminggu lagi.”

Sukarso seketika membuka matanya lebar-lebar.

“Apa?”

“Seminggu.”

Wajah Sukarso mendadak pucat pasi menatap benda kecil di hadapannya.

“Kenapa secepat itu?”

Hening sejenak tanpa jawaban. Lalu, jenglot itu bersuara lagi, menyatakan bahwa dirinya baru saja membantu menyelesaikan urusan Sukarso yang lain.

Dahi Sukarso berkerut tebal.

“Masalah apa?”

“Maling yang mengambil uangmu.”

Sukarso langsung membatu. Jantungnya terasa berhenti berdetak seketika. Sebuah kesadaran baru menghantam pikirannya: sosok yang menyusup ke rumahnya waktu itu rupanya bukan sekadar pencuri biasa. Dan kejadian aneh yang membuntutinya setelah keluar dari rumah bukan sekadar kebetulan belaka.

“Jadi... kamu yang melakukannya?”

Jenglot itu tidak memberi jawaban gamblang, tetapi bagi Sukarso, bisikan itu sudah lebih dari cukup. Wajahnya makin hilang warna. Ia baru benar-benar paham bahwa setiap bantuan gaib yang ia terima selalu menuntut bayaran mahal secara tunai. Dan kini, tenggat waktunya hanya tersisa tujuh hari.

Dengan pikiran yang kacau balau, Sukarso melangkah keluar dari kamar khusus. Ia merosot di kursi ruang tengah seorang diri.

“Bagaimana lagi?”

Kalimat itu terus bergema memutari otaknya. Ia sama sekali tidak sudi jika anak dan istrinya yang harus menjadi korb*n. Sebab itulah, naluri bertahan hidupnya memaksa otak berpikir keras.

Ia mulai mengabsen satu per satu ingatan tentang orang-orang yang pernah menyambangi tokonya. Wajah para pelanggan melintas bergantian, hingga akhirnya ia teringat pada satu sosok.

Seorang pelanggan yang tergolong berkecukupan. Meski bukan kelas konglomerat, taraf hidupnya jelas jauh melampaui rata-rata warga di sekitar toko. Sukarso cukup mengenalnya—ia paham tabiatnya, tahu gaya bicaranya, dan mengerti kapan ada celah untuk mendekati pria itu.

Cerita Horor Jenglot dan Rahasia Sukarso

Beberapa hari kemudian, skenario Sukarso mulai berjalan. Ia mendekati targetnya dengan topeng keramahan seperti biasa. Tak ada satu orang pun yang curiga bahwa di balik senyum hangat Sukarso, tersimpan niat jahat yang amat pekat.

Hubungan mereka pun makin akrab dari hari ke hari. Hingga pada sebuah kesempatan emas, Sukarso berhasil melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah pelanggan tersebut.

Seketika itu juga, peristiwa m*ng*r*hk*n kembali terulang di dalam sana. Tidak ada saksi mata yang tahu pasti apa yang terjadi di dalam rumah itu. Yang tersisa tatkala segalanya usai hanyalah keheningan yang mencekam.

Sukarso lantas kembali membawa wadah berisi persembahan kepada jenglot. Sekali lagi, dahaga sang makhluk terpenuhi. Sukarso mengira dirinya bisa bernapas lega dan situasi akan kembali aman. Ia bahkan sempat menyunggingkan senyum tipis sewaktu melangkah keluar dari kamar khusus.

Sayangnya, hanya dalam hitungan hari, atmosfer di kota kecil itu mendadak berubah tegang.

Kabar-kabar buruk mulai berhembus dari berbagai sudut. Seorang tukang kebun dilaporkan hilang misterius dan tak kunjung pulang ke rumah, membuat pihak keluarga panik mencari ke sana-kemari.

Tak lama berselang, geger baru kembali meletus. Sebuah keluarga mendapati peristiwa m*ng*r*hk*n terjadi di hunian mereka. Desas-desus langsung menyeruak kencang. Tetangga berbondong-bondong datang berkerumun, sementara aparat kepolisian mulai turun tangan mengumpulkan data dan bukti.

Sukarso menyerap semua berita burung itu dari kasak-kusuk para pelanggan yang singgah di tokonya. Telapak tangannya mendadak berpeluh dingin. Raut mukanya berubah keruh saat mendengar detail-detail informasi yang terasa begitu akrab dengan jejak langkahnya sendiri.

Pikirannya otomatis menyambungkan benang merah.

Tukang kebun. Pelanggan toko. Rumah yang sempat ia kunjungi.

Semuanya seperti kepingan puzzle yang mendadak terpasang rapi membentuk gambaran utuh.

Sukarso tertunduk lesu. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar terkepung tanpa jalan keluar. Bukan cuma bayang-bayang kejaran polisi yang menghantuinya, melainkan kenyataan bahwa semakin banyak orang hilang, semakin terbuka lebar pula peluang seseorang untuk menemukan keterkaitan di antara benang-benang kejadian tersebut.

Ia melemparkan pandangan ke arah pintu depan toko. Di luar sana, beberapa warga masih tampak asyik membeberkan teori tentang kejadian horor itu.

Sukarso hanya bisa terdiam membisu, sementara peluh dingin mulai menetes membasahi pelipisnya.

“Jangan-jangan... semua ini akan mengarah kepadaku.”

Bab 13 Cerita Horor yang Mencekam

Ia sama sekali tak menyadari, sejak detik itu, bukan lagi cuma mata jenglot yang mengawasinya dari kegelapan. Ada orang-orang lain yang mulai bergerak mencari titik terang. Dan semakin gigih Sukarso menuruti nafsu sang jenglot, semakin cepat pula topeng rahasianya bakal terkelupas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar