Ceo Yang Mengejutkan.
Pagi itu matahari baru saja mau muncul ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Aini.
Aini yang lagi asyik menyapu halaman mendadak bingung melihat siapa yang turun dari mobil itu.
"Alex?" bisiknya tak percaya.
Alex berjalan mendekat, tapi raut wajahnya beda sekali dari biasanya.
Sombongnya hilang entah ke mana, berganti raut penyesalan yang dalam.
"Aini... aku ke sini cuma mau minta maaf," katanya.
Aini terpaku.
"Minta maaf?"
"Iya. Aku sadar betul selama ini sudah terlalu banyak mengganggu hidupmu. Mulai hari ini, aku janji tidak akan pernah usik kamu lagi."
Mendengar itu, Aini makin tidak paham.
"Sebenarnya ada apa, Alex?"
Alex helah napas panjang.
"Kemarin aku sempat main ke rumah Anton."
Alis Aini berkerut.
"Lalu?"
"Ternyata... Anton bukan orang sembarangan."
"Maksudmu bagaimana?"
Alex menggeleng pelan.
"Maaf, aku belum bisa cerita sekarang. Yang jelas aku sadar, aku tak pantas bersikap keterlaluan seperti kemarin."
Meskipun masih bingung setengah mati, melihat penyesalan Alex yang tampak tulus, Aini memilih untuk menyudahinya.
"Ya sudah, aku maafkan."
Wajah Alex langsung kelihatan lega luar biasa.
"Terima kasih, Aini. Semoga kamu bahagia."
Setelah itu, ia berbalik, masuk mobil, dan berlalunya begitu saja.
Aini menatap mobil itu sampai hilang di tikungan.
"Aneh banget... sebenarnya ada rahasia apa?" pikirnya.
Tapi ia tak mau terlalu ambil pusing karena hari ini sangat penting.
Perusahaan makanan tempatnya baru bekerja sebulan akan mengadakan pesta perjamuan untuk menyambut sang CEO baru—sosok pengusaha muda sukses yang selama ini misterius dan belum pernah menampakkan diri.
Aini bergegas bersiap, memakai pakaian kerja terbaiknya.
"Hari ini bakal sibuk banget," gumamnya pelan.
Sementara itu, di lantai paling atas gedung perusahaan, Anton sedang fokus memeriksa beberapa berkas di ruang kerjanya.
Tok... tok... ketukan pintu terdengar.
"Masuk," ucap Anton.
Pak Waluyo, manajer utama, melangkah masuk membawa laporan.
"Selamat pagi, Pak Anton."
"Pagi, Pak Waluyo. Bagaimana perkembangan kantor?"
"Sangat baik, Pak. Banyak staf baru yang berpotensi. Terutama ada satu karyawan wanita berhijab yang sangat menonjol," terang Pak Waluyo.
Anton menengadah.
"Oh ya?"
"Iya, Pak. Analisis pasar dan strategi pemasarannya tajam sekali. Berkat ide-idenya, penjualan kita naik pesat."
Anton tersenyum puas.
"Bagus, pertahankan dia."
"Siap, Pak!"
Pak Waluyo sengaja tidak menyebut nama agar tak mengganggu fokus Anton.
Menjelang siang, aula utama sudah dipenuhi riuh para karyawan yang penasaran.
"Dengarnya CEO kita masih muda ya?"
"Katanya beliau merintis dari nol, sampai nekad beli saham pakai uang tabungan dan jual tanah pas pasar lagi anjlok."
"Semoga pemimpinnya baik ya..."
Bisik-bisik itu berseliweran di sekitar Aini yang ikut berdiri di tengah kerumunan.
Tak lama, Pak Waluyo naik ke panggung dan suasana mendadak hening.
"Selamat siang semuanya. Hari ini, saya bangga memperkenalkan pemilik sekaligus CEO perusahaan kita."
Pintu samping terbuka.
Seorang pria berkemeja dan berjas hitam rapi melangkah masuk dengan tenang.
Tepuk tangan riuh membahana.
Tapi detik itu juga, napas Aini tertahan.
Matanya membelalak lebar.
"Itu... Anton?!" (Dalam hati Aini).
Pria di atas panggung itu benar-benar Anton—orang yang selama ini ia kenal cuma sebagai penjual bakso sederhana.
Anton mulai memberi sambutan hangat tanpa sadar kalau Aini ada di barisan depan.
Setelah acara formal selesai dan perjamuan dimulai, Anton berjalan menyapa para staf.
Begitu melintas di dekat satu meja, sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Anton?"
Anton menoleh spontan dan langsung ikut terperanjat.
"Aini?!"
Keduanya saling pandang, terpaku beberapa saat.
"Aku benar-benar tak menyangka... kamu CEO-nya?" ucap Aini masih setengah percaya.
Anton terkekeh pelan.
"Aku juga tak sangka kamu kerja di sini."
Aini tertawa kecil.
"Pantas saja waktu itu kamu selalu kelihatan tenang banget."
Mereka akhirnya mengobrol di sudut ruangan yang agak tenang.
Anton menceritakan kisah hidupnya secara singkat—tentang almarhum ayahnya yang dulu tukang bakso, perjuangan ibunya, hingga kerja kerasnya mengumpulkan modal untuk bangkit.
Namun Anton sengaja menyembunyikan beberapa hal.
"Tapi itu baru cerita kecilnya," bisik Anton sambil tersenyum misterius.
Mata Aini berkaca-kaca mendengarnya.
"Aku tak pernah bayangkan perjuanganmu seberat itu..."
Anton menatap Aini hangat.
"Kalau kamu mau tahu cerita lengkapnya, kapan-kapan mainlah ke rumah."
"Beneran?"
"Iya, nanti aku ceritakan semuanya dari awal."
Aini mengangguk pelan.
"Baik, aku pasti datang."
Di dalam hatinya, rasa penasaran itu makin membakar.
Ia sadar, masih banyak teka-teki besar tentang Anton yang belum terkuak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar