Logo Pojok Novel Pojok Novel

Adsense Search Bottom

Ceo Nyamar Jadi Tukang Bakso BAB 12: Orang Ketiga

Orang Ketiga


Orang Ketiga.

Sore itu, Alex terduduk di dalam mobil mewahnya dengan rahang mengeras. Wajahnya masih dibayangi rasa kesal sejak Aini menolak cintanya didepan rumah beberapa hari lalu.

"Apa kurangnya aku?" gumamnya seraya mengepalkan tangan erat-erat. "Aku tampan, kaya, punya jabatan... Kenapa dia tetap menolak?"

Perlahan, rasa penasaran itu membakar dadanya hingga berubah menjadi obsesi.

"Aku harus tahu siapa laki-laki yang sudah membuat Aini menolakku."

Tanpa membuang waktu, Alex memanggil salah satu orang kepercayaannya.

"Cari tahu siapa kekasih Aini. Aku tidak peduli berapa pun biayanya!"

"Baik, Pak Alex," jawab anak buahnya patuh.

Selama beberapa hari, orang suruhan Alex terus membuntutinya secara diam-diam. Hingga pada suatu sore, mereka mendapati Aini tengah menghampiri seorang penjual bakso keliling. Senyum bahagia terkembang di wajah gadis itu saat berbincang hangat dengannya.

*Cklik!* Kamera orang suruhan Alex langsung mengabadikan momen tersebut.

Malam harinya, laporan pun mendarat di meja Alex.

"Pak, kami sudah menemukan pria yang sering ditemui Bu Aini," lapornya seraya menyerahkan selembar foto.

Alex menyambarnya cepat. Namun, dalam hitungan detik, raut wajahnya berubah drastis.

"Hah? Tukang bakso?!" serunya tak percaya.

"Iya, Pak. Dia jualan bakso keliling setiap sore. Katanya mereka cukup dekat."

Seketika Alex tertawa terbahak-bahak, nada suaranya penuh penghinaan.

"Hahaha... Jadi aku dikalahkan sama tukang bakso?"

Namun, tawanya mendadak terhenti, berganti menjadi amarah yang makin meluap.

"Besok antar aku ke tempat dia berjualan!"

Pertemuan Alex dengan Anton

Keesokan sorenya, Anton tampak mendorong gerobak baksonya seperti biasa.

"Bakso... bakso hangat..." serunya ramah.

Anak-anak kecil berlarian menghampiri gerobak, disusul beberapa pelanggan lain yang mulai mengantre.

  • "Tiga mangkuk ya, Mas."
  • "Siap, Bu," sahut Anton cekatan melayani setiap pembeli dengan senyum hangat.

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan gerobaknya.

Alex keluar dari pintu kemudi, tampil klimis dengan pakaian mahal dan kacamata hitam. Tatapan sinisnya langsung tertuju padat kepada Anton.

"Jadi... kamu tukang bakso itu?"

Anton menoleh tenang.

"Maaf, ada yang bisa saya bantu?"

Alex melangkah mendekat dengan seringai meremehkan.

"Jangan pura-pura tidak tahu."

"Maaf, saya benar-benar tidak mengerti," balas Anton datar, tanpa gestur panik sedikit pun.

Alex menunjuk tepat di depan wajah Anton.

"Kamu pacarnya Aini, kan?"

Anton hanya tersenyum tipis tanpa berniat menjawab. Sikap tenang itu justru membakar emosi Alex secara instan.

Ancaman Alex kepada Anton

"Dengar baik-baik!" gertak Alex.

"Aku anak Manager di perusahaan besar. Gajiku ratusan juta, aku naik mobil miliaran. Sedangkan kamu?"

Alex melirik gerobak bakso di samping Anton dengan tatapan jijik.

"Cuma tukang bakso keliling!"

Keributan kecil itu mulai menyita perhatian beberapa pelanggan. Namun, Anton tetap santai meracik bakso yang sedang direbusnya.

Melihat reaksinya, Alex kembali menaikkan nada suaranya.

"Aku kasih kamu kesempatan: putus dari Aini! Kalian itu tidak selevel, kamu tidak akan pernah bisa membahagiakannya."

Anton akhirnya mendongak, menatap lurus mata Alex dengan tenang.

"Sudah selesai?"

Alex terperanjat.

"Kamu tidak dengar apa yang aku bilang?!"

"Saya dengar," sahut Anton pelan.

"Lalu? Saya sedang bekerja. Tolong jangan mengganggu pelanggan saya."

Jawaban santai itu membuat wajah Alex memerah padam.

"Kamu berani mengabaikanku?!"

"Saya menghargai semua orang, Pak. Tapi saya juga harus menghargai pekerjaan saya," balas Anton tetap mengulas senyum.

Alex makin mendekat hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.

"Kalau kamu tidak mau putus baik-baik, jangan salahkan aku kalau hidupmu susah nanti!"

Tanpa rasa takut sedikit pun, Anton membalas tatapan Alex.

"Kalau ancaman Bapak sudah selesai, silakan minggir. Ada pelanggan yang sedang menunggu baksonya."

Ucapan tajam nan tenang itu membuat Alex menggertakkan gigi—merasa benar-benar diremehkan oleh seorang penjual bakso.

Tanpa mengucap sepatah kata lagi, ia berbalik, masuk ke mobilnya, dan memacu kendaraan itu dengan penuh amarah.

Dari balik kaca mobil yang gelap, Alex berbisik penuh dendam.

"Kamu memang belum tahu siapa aku... Kalau begitu, aku akan buat kamu menyesal karena berani mempertahankan Aini."

Sementara itu, Anton kembali melayani para pelanggannya dengan senyum ramah, seolah ancaman tadi hanyalah angin lalu di sore yang sibuk.

Advertisement (End-Post)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar