Logo Pojok Novel Pojok Novel

Adsense Search Bottom

Ceo Nyamar Jadi Tukang Bakso BAB 9: Awal Mimpi Baru

Awal Mimpi Baru



Awal Mimpi Baru.

Sore mulai temaram ketika Anton akhirnya bisa meluruskan kaki di atas bangku kayu panjang, tepat di samping gerobak baksonya. Dagangannya sudah ludes. Sambil meneguk air dari botol minumnya, ia mendongak, memandangi langit yang pelan-pelan berjelut kemerahan.

Meskipun kini ia memegang kendali atas sebuah perusahaan properti besar, kesederhanaan gerobak ini selalu memberi kedamaian yang tak pernah bisa ia beli dengan rupiah berapa pun. Apalagi tiap kali aroma gurih kuah bakso itu tercium—resep rahasia peninggalan almarhum ayahnya—ingatannya selalu berputar kembali ke masa kecil.

"Andai resep Ayah bisa dirasakan lebih banyak orang..." gumamnya pelan.

Gagasan itu tidak lagi sekadar lintasan pikiran, melainkan mendesak untuk diwujudkan.

Sebuah ukiran senyum tipis terbit di bibirnya.

Kenapa tidak buat anak perusahaan saja? Bukan di bidang properti, tapi kuliner. Bakso kemasan dengan resep asli Ayah.

Makin dipikirkan, makin masuk akal.

Perusahaannya punya fondasi keuangan yang sangat solid, jadi urusan modal jelas bukan halangan. Tantangan terbesarnya cuma satu: menjaga rasa agar tetap otentik seperti buatan ayahnya dulu.

Malam itu juga, Anton duduk di meja kerjanya hingga larut. Ia merancang cetak biru bisnis barunya—dari alur produksi, konsep pengemasan, rantai distribusi, sampai strategi pemasaran.

Bagi Anton, ini bukan cuma soal ekspansi bisnis. Ini caranya merawat warisan sang ayah.

Satu Bulan Kemudian

Satu bulan berlalu cepat.

Sebuah bangunan sederhana yang difungsikan sebagai kantor sekaligus pabrik skala kecil telah siap beroperasi.

Di bagian depan, sebuah papan nama berdiri kokoh:

PT Bakso Warisan Nusantara

Anak perusahaan baru di bidang makanan beku itu resmi berdiri di bawah naungan holding milik Anton.

Pagi harinya, Anton memanggil salah satu tangan kanannya.

"Pak Waluyo."

"Siap, Pak Anton."

"Saya mau Bapak yang memegang kendali sebagai manajer di perusahaan baru ini."

Waluyo sempat terpaku, matanya melebar.

"Saya, Pak?"

Anton mengangguk mantap.

"Saya tahu kapasitas Bapak. Bangun perusahaan ini dari nol, dan rekrut orang-orang terbaik."

"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak. Saya siap," jawab Waluyo mantap.

Anton menyodorkan map dokumen di mejanya.

"Segera buka lowongan kerja. Kita butuh tim untuk produksi, administrasi, pergudangan, pengemasan, pemasaran, sampai distribusi."

Saat Waluyo hendak meraih map tersebut, Anton menahannya sebentar.

Wajahnya berubah serius.

"Ada satu hal yang jauh lebih penting dari sekadar rekrutmen biasa, Pak."

Waluyo mengurungkan niatnya dan mendengarkan dengan saksama.

"Setelah mereka diterima, jangan cuma menilai teknis dan hasil kerjanya."

"Maksud Bapak?"

"Awasi karakter mereka. Perhatikan sikap sehari-hari, cara berinteraksi dengan rekan kerja, dan terutama... kejujurannya."

Waluyo manggut-manggut paham.

"Baik, Pak."

"Satu lagi, saya belum akan menampakkan diri di depan mereka."

"Lho, kenapa begitu, Pak?"

"Biarkan mereka bekerja dulu selama sebulan. Saya ingin lihat kelakuan asli mereka sebelum mereka tahu siapa pemilik tempat ini sebenarnya."

Semburan senyum tipis lolos dari bibir Waluyo.

"Siap, Pak. Saya mengerti."

Bagi Anton, keahlian bisa diasah seiring waktu, tapi integritas dan kepribadian adalah hal yang paling sulit dibentuk.

Pertemuan Tak Terduga

Beberapa hari kemudian, Anton kembali pada rutinitas samarannya. Ia mendorong gerobak kayu menyusuri jalanan seperti biasa.

Tak ada satu pun pembeli yang menyangka, pria berkaus oblong kusam dan bercelemek kain di depan mereka adalah CEO dari dua perusahaan besar.

Hari itu, dagangannya kembali ludes tak bersisa.

Begitu suasana lapaknya mulai lengang, Anton duduk mengoles keringat di dahi dengan handuk kecil.

"Maaf... ini beneran Anton, kan?"

Sebuah suara lembut menyapa dari arah belakang.

Anton menoleh.

Seorang wanita berparas manis dengan hijab warna krem berdiri di sana.

Wajah itu terasa sangat familier, meski ingatan Anton butuh jeda beberapa detik untuk memprosesnya.

Wanita itu terkekeh pelan melihat ekspresi bingung Anton.

"Anton... masa lupa sama aku?"

Mata Anton seketika membelalak.

"Nur Aini?"

Tawa kecil lepas dari wanita itu.

"Alhamdulillah, kirain udah lupa." Kata Aini.

"Masyaallah... udah lama banget! Ada kali sepuluh tahun lebih?" senyum Anton merekah lebar.

"Iya, lumayan banget."

"Kamu tinggal di daerah sini sekarang?"

"Iya, baru pindah minggu lalu bersama keluarga didaerah dekat sini."

Percakapan mengalir begitu saja.

Ternyata Aini baru diterima kerja diperusahaan baru tanpa tau itu perusahaan Anton yang baru di dirikan.

Kenangan masa-masa SMP mendadak berhamburan kembali.

Anton teringat betapa seringnya mereka mengerjakan tugas kelompok bareng.

Rumah Aini dulu selalu jadi markas favorit anak-anak sekelas.

"Aku masih ingat banget lho, kamu paling rajin kalau disuruh belajar kelompok di rumah," celetuk Aini terkekeh.

Anton tertawa kecil.

"Ya gimana enggak rajin, ibu kamu kan selalu nyediain teh hangat sama gorengan panas."

Keduanya terbahak, larut dalam nostalgia masa seragam putih-biru.

Tak terasa, langit sore mulai berubah gelap.

"Duh, jam segini ya... sekarang kita udah punya kesibukan masing-masing," ujar Aini sambil mengamati sekitar.

"Iya, time flies." Kata Anton.

"Kalau boleh... boleh minta nomor WhatsApp kamu? Biar nanti kalau ada waktu luang kita bisa ngobrol lagi." Kata Anton.

"Oh, tentu. Boleh banget." Kata Aini.

Mereka bertukar nomor ponsel sebelum akhirnya Aini pamit beranjak pergi.

Anton berdiri menatap punggung teman lamanya yang perlahan menjauh di remang sore.

Ia tak pernah menyangka, di tengah himpitan kesibukan membangun lini bisnis baru, takdir justru membawanya kembali berpapasan dengan masa lalunya.

Dan tanpa ia sadari, sapaan sederhana sore itu adalah awal dari babak baru yang akan mengubah jalan hidupnya.

Advertisement (End-Post)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar