Logo Pojok Novel Pojok Novel

Adsense Search Bottom

Ceo Nyamar Jadi Tukang Bakso Bab 8: CEO yang Menghilang Setiap Sore


CEO yang Menghilang Setiap Sore


CEO yang Menghilang Setiap Sore.

Waktu berputar cepat. Waktu rasanya terbang begitu saja. Anton—bocah yang dulu bajunya sering berbau asap kuah bakso—kini menjelma jadi sosok paling disegani di kotanya. Kursi CEO perusahaan properti terbesar kini ada di bawah kendalinya. Di tangannya, bisnis yang dulunya nyaris gulung tikar itu berhasil disulap jadi imperium raksasa. Proyek-proyek besar terus mengalir, para karyawan hidup sejahtera, dan nama Anton dipuji di mana-mana.

Rumah megah, mobil-mobil mewah berderet di garasi, dan deretan angka di rekeningnya sudah lebih dari cukup untuk membuat siapa saja silau. Tapi tidak dengan Anton. Masa kecilnya terlalu melekat erat untuk sekadar dilupakan begitu saja.

Dapur Rahasia Warisan Sang Ayah

Tepat di halaman belakang rumah mewahnya, ada sebuah bangunan kecil yang tampak kontras. Sederhana, tapi selalu mengepulkan aroma gurih setiap pagi. Di sanalah dapur tempat bakso dibuat.

Anton sengaja menyewa seorang koki khusus untuk menyiapkan adonan tiap harinya. Namun, syaratnya tak main-main: sebelum menyentuh panci, sang koki wajib menandatangani perjanjian kerahasiaan resep. Sebab, itu bukan sekadar racikan daging dan tepung. Itu adalah warisan dan ingatan tentang almarhum ayahnya.

Saban pagi, Anton selalu menyempatkan diri mampir ke dapur belakang. Diambilnya sebuah sendok, mencicipi kuah yang membuih, lalu mengunyah pelan bakso di mulutnya.

"Rasa kuahnya harus persis kayak buatan Ayah dulu," gumam Anton pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Koki di sampingnya mengangguk takzim.

"Siap, Pak Anton. Selalu sesuai petunjuk."

CEO yang Selalu Menghilang Setiap Sore

Sore mulai membayang, dan hiruk-pikuk di kantor pusat perlahan mereda. Namun, ada satu teka-teki yang selalu bikin orang-orang kantor heran, walau tak ada yang berani bertanya: CEO mereka selalu hilang misterius setiap jam begini.

Usai membereskan berkas rapat terakhir, Anton merapikan meja dan melirik jam tangannya. Ia lalu menatap manajer kepercayaannya, Pak Dimas.

"Pak Dimas, kalau ada berkas penting yang butuh tanda tangan, simpan buat besok pagi ya. Saya ada urusan mendadak."

Pak Dimas cuma tersenyum tipis. Kalimat itu sudah seperti ritual harian.

"Baik, Pak. Operasional sampai malam nanti biar saya yang handle."

Anton menepuk bahu pria tua itu. Ia sangat bersyukur punya Pak Dimas. Tanpa kesetiaan pria itu menjaga benteng kantor, Anton tidak akan pernah punya ruang untuk "melarikan diri".

Pintu Rahasia Menuju Kehidupan Lamanya

Sesampainya di rumah, Anton tak lantas menyeburkan diri ke empuknya sofa ruang keluarga. Langkah kakinya justru berbelok cepat menuju halaman belakang, menyusuri taman bunga yang rimbun.

Di balik semak-semak, ada satu pintu kecil yang sengaja dibuat menyatu dengan warna tembok pagar. Dari luar, siapapun pasti mengira itu cuma dinding polos.

Pintu rahasia.

Begitu masuk ke ruangan kecil di balik pintu itu, Anton bertukar peran. Jas mahal buatan penjahit kelas atas ia lepas, digantikan dengan kaos oblong lusuh, celana kain biasa, sandal jepit, dan sebuah celemek yang agak pudar. Tak lupa, topi kain yang sedikit kusam ditempelkan di kepala untuk menutupi separuh wajahnya.

Aroma kuah gurih langsung menyambut saat ia memegang besi dorongan gerobak.

Sret... pintu rahasia bergeser pelan, dan Anton mulai mendorong gerobaknya keluar menembus sore.

Tak ada satu pun tetangga kompleks perumahan elite itu yang sadar, kalau tukang bakso yang baru saja lewat adalah tetangga miliarder mereka.

Kembali Menjadi Tukang Bakso

Begitu roda gerobaknya menyentuh aspal gang-gang pemukiman padat, dada Anton mendadak terasa lapang. Suasana ini... aroma ini... tempat inilah rumahnya yang sebenarnya.

"Baksoo... bakso hangat...!" teriaknya melengking, nada khas yang sudah terlatih sejak ia masih SD.

Seketika, gang sempit itu riuh.

  • "Horeee! Om Bakso dateng!"

Anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki, mengelilingi gerobaknya.

Beberapa ibu-ibu menyusul keluar pagar sambil menimang mangkuk piring dari rumah.

"Mas, biasa ya! Dua porsi, sambalnya dikit aja."

Anton tertawa kecil.

"Siap, Bu! Ditunggu sebentar ya."

Di tempat ini, tak ada yang memanggilnya Pak CEO. Tak ada yang membungkuk segan atau bicara dengan bahasa formal. Di mata mereka, Anton hanyalah tukang bakso langganan yang ramah dan suka melucu.

Dan anehnya, perasaan bahagia saat melayani mangkuk demi mangkuk di pinggir jalan ini terasa jauh lebih nyata daripada saat ia menghadiri jamuan makan malam berdasi kupu-kupu bersama para pengusaha kelas atas.

Dua Mimpi yang Berhasil Diraih

Melihat senyum terpancar dari orang-orang yang mengunyah baksonya, ingatan Anton mendadak terbang ke sosok pria tua yang dulu mengajarinya memegang pisau dan meracik kuah.

Ayah... bisiknya dalam hati, menatap langit sore yang mulai memerah.

Impian kecilku akhirnya kejadian. Aku berhasil jadi CEO seperti yang Ayah mau, tapi aku juga tetap jadi tukang bakso seperti Ayah. Dan jujur, aku bangga sama keduanya.

Anton pulang dengan senyuman bahagia, karena sudah bisa jualan bakso untuk beberapa minggu ini, dan melihat senyum para pelanggan akhirnya dia tau kebahagian Almarhum ayahnya dulu. Tapi Anton juga tidak ingin menelantarkan perusahaannnya, dan dia berniat mendirikan anak perusahaan lagi.****

Advertisement (End-Post)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar