Masa SMP yang Penuh Perjuangan
Tiga tahun berlalu begitu cepat. Anton kini sudah berseragam putih-biru. Langkah kakinya makin lebar, badannya makin tinggi, dan garis wajahnya mulai menanggalkan kesan kanak-kanak. Namun, ada satu hal dari Anton yang tak pernah berubah: baktinya pada sang ibu.
Setiap pagi, Anton memilih berjalan kaki ke sekolah. Ia tak pernah menuntut uang jajan lebih. Bagi Anton, tiap rupiah yang dihemat ibunya adalah modal berharga untuk masa depan mereka.
Langkah kaki itu juga yang membawanya saban sore. Tanpa sempat ganti seragam, Anton biasanya langsung meluncur ke sudut jalan tempat gerobak bakso ibunya mangkal.
"Bu, Anton balik," sapanya hangat dengan senyum lebar yang selalu berhasil mengusir pekatnya kelelahan di wajah sang ibu.
"Baru pulang, Nak? Istirahat dulu, kamu pasti capek," sahut ibunya lembut.
Anton menggeleng pelan, lalu mengambil alih centong kuah dari tangan ibunya.
"Enggak kok. Ibu duduk aja dulu, biar Anton yang pegang sisanya."
Sejak saat itu, aroma kuah gurih dan kaldu panas jadi teman setia sore Anton. Tangannya makin lihai menyiram kuah, menyajikan mangkuk demi mangkuk, hingga meracik bumbu.
Malamnya, sebelum gerobak ditutup, jemari kecil itu tak segan masuk ke ember cuci untuk membersihkan sisa piring pelanggan.
"Rajin banget kamu, Ton. Kasihan ibumu kalau sendirian, ya?" puji seorang pelanggan langganan.
Anton hanya terkekeh pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ah, biasa aja kok, Pak."
Lelah? Jelas. Tapi rasa lelah itu selalu kalah oleh rasa tidak tega.
"Ton! Futsal, yuk! Kurang satu orang nih!" teriak teman-temannya dari lapangan seberang jalan.
"Duh, lain kali deh ya!" seru Anton melambaikan tangan.
"Perasaan 'lain kali' terus dari kemarin!" celetuk temannya bercanda.
Anton cuma bisa tertawa kecil sambil terus mengelap meja.
Tentu saja ada keinginan untuk ikut berlari dan tertawa bebas seperti anak-anak seusianya. Tapi bayangan ibunya yang harus memikul gerobak sendirian selalu membuang jauh-jauh rasa iri itu.
Usai urusan gerobak selesai dan makan malam yang sederhana terlewati, giliran meja belajar kayu lapuk di sudut kamar yang jadi saksi. Di bawah remang lampu bohlam, Anton menyerap lembar demi lembar materi sekolah hingga larut malam.
Perjuangan sunyi itu akhirnya membuahkan hasil saat pembagian rapor semester.
"Selamat ya, Anton. Nilaimu paling tinggi satu angkatan," ujar wali kelasnya bangga di depan ruang kelas.
Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan.
Namun bagi Anton, nilai sempurna itu bukan untuk dipamerkan. Itu adalah kado kecil yang ingin ia persembahkan untuk ibunya.
Langkah kakinya terasa lebih ringan saat pulang sore itu.
"Bu... Anton dapat peringkat satu lagi," bisiknya pelan begitu sampai di rumah, menyodorkan lembaran kertas hasil belajarnya.
Tanpa banyak kata, sang ibu langsung merengkuh tubuh Anton erat-erat. Ada gumpalan haru yang tertahan di tenggorokannya.
"Ibu bangga... bangga banget sama kamu, Nak."
"Tapi perjalanan Anton masih jauh, Bu. Anton mau kuliah nanti," ucap Anton mantap, menatap lurus mata ibunya.
Ibunya mengangguk pelan, air mata yang ditahannya akhirnya menetes juga.
"Pasti. Ibu bakal kerja lebih giat lagi biar kamu bisa setinggi yang kamu mau."
"Enggak, Bu. Kita berjuang bareng-bareng," potong Anton lembut sambil menggenggam jemari ibunya yang kasar karena pekerjaan keras.
"Anton bakal belajar yang bener, dan tiap pulang sekolah Anton bakal tetep bantu Ibu di gerobak."
Malam itu, di bawah temaram lampu rumah yang sederhana, senyum hangat terukir di wajah keduanya. Di tengah segalanya yang serbaterbatas, mereka yakin satu hal: keringat dan perjuangan hari ini tak akan pernah mengkhianati masa depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar