Janji Seorang Anak
Rumah terasa jauh lebih sunyi sejak Pak Budi meninggal dunia. Tak ada lagi tawa hangat yang biasanya memecah keheningan di meja makan. Yang tersisa hanya gerobak bakso tua peninggalannya, sebuah benda kayu yang kini terpaksa diambil alih oleh Ibu Anton untuk menyambung hidup.
Tiap pagi, jauh sebelum langit terang, Ibu sudah sibuk di dapur. Asap kuah bakso mengepul hangat diiringi denting panci dan aroma racikan bumbu, Saat roda gerobak mulai terdengar berderit didorong keluar, Anton biasanya sudah terbangun.
"Bu, Anton bantu dorong sampai depan gang, ya?" tawar Anton sambil mengucek matanya.
Ibunya tersenyum tipis, menyembunyikan raut lelah.
"Boleh. Setelah itu kamu langsung bersiap untuk sekolah, ya."
Anton mendorong gerobak kayu itu sekuat tenaga, meskipun hanya beberapa meter hingga mulut gang. Rasa bangga yang terselip di dadanya setiap kali ia berhasil meringankan beban ibunya, meskipun hanya sedikit.
Di sekolah, pikiran Anton sering melayang. Saat teman-temannya asyik jajan di kantin, Anton memilih duduk diam dan menyimpan uang sakunya dengan hati-hati. Kadang, ia hanya mengganjal perutnya dengan seteguk air putih sampai bel pulang berbunyi. Bukan karena pelit, melainkan ia tahu betul berapa tetes keringat yang harus dikeluarkan ibunya untuk mendapatkan lembaran uang itu.
Sore harinya, Anton sudah siap duduk di teras. Matanya tak lepas menatap ujung jalan, menunggu sosok yang ditunggunya. Begitu roda gerobak tua itu terlihat dari kejauhan, Anton langsung berlari menghampirinya.
"Sini, Bu, biar Anton yang mendorong!"
Dia menuntun gerobak ke halaman, lalu sigap membawa panci dan mangkuk kotor ke dapur.
Melihat peluh membasahi dahi dan ceruk leher ibunya, hati Anton terasa teriris.
"Bu, capek sekali, ya?" tanyanya pelan.
Ibunya menyeka keringat dengan ujung jilbabnya, lalu tersenyum lembut.
"Ini hanya usaha, Nak. Yang terpenting adalah rezeki yang halal."
Malam itu, sambil menikmati makan malam seadanya, Anton memberanikan diri untuk berbicara lagi.
"Bu... saat libur sekolah nanti, Anton boleh ikut jualan, kan?"
Suapan ibunya terhenti di udara.
"Mau ikut jualan?"
"Supaya Ibu tidak terlalu lelah. Saya berharap ada yang dapat membantu."
Ibunya menggeleng pelan lalu meletakkan sendoknya.
"Tidak perlu."
"Tapi, Bu—"
"Anton, dengarkan Ibu," potong ibunya. Suaranya terdengar lembut namun tegas. "Jika Ayahmu masih ada, beliau pasti ingin kamu fokus pada sekolah. Jangan khawatirkan soal mencari uang terlebih dahulu."
Anton menunduk lesu.
"Bagaimana jika nanti saat Anton sudah dewasa?"
"Nanti kalau kamu sudah dewasa, terserah mau jadi apa. Tapi untuk sekarang, tugasmu hanya satu."
"Belajar?"
Ibunya mengangguk mantap.
"Belajar yang benar."
Malam itu di kamarnya, Anton menatap buku pelajarannya yang terbuka. Namun, pandangannya berulang kali tertuju pada bingkai foto mendiang ayahnya yang berada di sudut meja.
"Ayah..." bisiknya penuh haru.
"Anton berjanji akan belajar dengan rajin. Anton berjanji, suatu hari nanti Ibu tidak perlu merasakan lelahnya mendorong gerobak lagi."
Air mata menetes tanpa ia sadari, membasahi kertas buku di hadapannya.
Sejak malam itu, Anton berubah. Ia menepati setiap janjinya. Ia bangun lebih awal, menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum berangkat, dan belajar lebih giat dari siapa pun.
Di sekolah, nilainya melonjak. Guru-guru kerap memujinya sebagai murid yang paling gigih.
Namun, di balik semua prestasi itu, ada satu rahasia yang disimpan Anton rapat-rapat di dalam hatinya.
Setiap kali matanya menatap gerobak bakso tua milik ayahnya, impiannya untuk menjadi seorang tukang bakso tak pernah benar-benar padam. Ia hanya mengendapkannya perlahan, menunggu saat yang tepat untuk mewujudkannya.******

Tidak ada komentar:
Posting Komentar