Logo Pojok Novel Pojok Novel

Adsense Search Bottom

Ceo Nyamar Jadi Tukang Bakso BAB 10: Benih Cinta yang Tumbuh Sederhana

Benih Cinta yang Tumbuh Sederhana


Benih Cinta yang Tumbuh Sederhana.

Sejak sore di depan gerobak bakso itu, ada sesuatu yang perlahan berubah di antara Anton dan Nur Aini. Jarak yang dulu membatasi kini melebur menjadi percakapan hangat hampir setiap malam. Hal-hal sepele—seperti kabar harian, pertanyaan sederhana apakah sudah makan, hingga cerita konyol tentang pelanggan—menjadi rutinitas yang selalu dinanti.

Kadang, saat jam kerja Aini usai, gadis itu menyempatkan diri singgah. Di sudut jalan yang sama, Anton selalu sudah bersiap dengan gerobak baksonya. Aini cukup memesan semangkuk bakso hangat, lalu duduk menemani Anton mengobrol hingga lapaknya mulai ramai diserbu pembeli.

Di antara riuh jalanan dan aroma kuah gurih yang membumbung, benih-benih perasaan itu tumbuh tanpa perlu dipaksa. Namun, di balik aroma kuah bakso dan kesederhanaan kaos lusuhnya, Anton menyimpan rahasia rapat-rahasia yang tak tersentuh siapa pun: pria yang memegang sendok kuah itu sebenarnya adalah pemilik dua perusahaan besar yang tengah berkembang pesat.

Hari Minggu yang Ditunggu

Hari Minggu yang ditunggu pun tiba. Sejak matahari baru saja merangkak naik, gelisah tak mau beranjak dari raut wajah Anton. Jarum jam tangannya diperiksa berkali-kali, memastikan tak ada detail yang terlewat. Ia memilih kemeja putih polos dan celana hitam bahan—sederhana, rapi, dan tak berlebihan, selaras dengan sosok Anton yang dikenal orang-orang.

Sebelum melangkah keluar rumah, Anton menghampiri ibunya yang sedang berbenah.

"Bu... hari ini Anton mau ketemu Aini," pamitnya pelan.

Sang ibu menghentikan kesibukannya, lalu tersenyum hangat seolah sudah bisa membaca pikiran putra semata pembaginya itu.

"Mau menyatakan perasaan, ya?"

Wajah Anton seketika memerah. Ia hanya bisa tersipu, menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Doakan saja lancar ya, Bu."

"Mudah-mudahan diterima ya nak, Ibu sudah lama tidak ketemu Aini, nanti ibu juga ingin ketemu Aini lagi," sahut ibunya lembut sambil mengelus bahu Anton.

"Semoga Allah beri jalan terbaik untuk kalian."

Dengan dada berdebar halus, Anton memacu langkah menuju taman kota tempat mereka berjanji untuk bertemu. Dari kejauhan, ia sudah melihat Aini duduk anggun di bawah naungan pohon rindang. Perempaun itu mengenakan gamis biru muda yang senada dengan warna hijabnya. Begitu menyadari kehadiran Anton, sebuah senyum tulus mengembang cantik di wajahnya.

"Maaf ya, bikin menunggu lama?" tanya Anton merasa tak enak.

"Enggak kok, baru saja sampai," jawab Aini lembut.

Mereka pun berjalan menyusuri jalan setapak taman yang teduh. Percakapan mengalir begitu saja—mengenai kenangan masa kecil, pahit manis perjuangan hidup, hingga impian-impian masa depan yang ingin diraih.

Pernyataan Cinta Anton

Sampai pada satu titik, Anton mendadak menghentikan langkahnya. Langkah Aini pun terhenti, menatap bingung pada Anton yang tiba-tiba tampak sangat gugup.

"Aini..." panggil Anton, suaranya agak bergetar.

"Iya, Mas?"

Anton menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberanian yang sempat tercecer.

"Ada sesuatu yang sebenarnya sudah lama ingin aku sampaikan."

Aini menatapnya lekat, menanti kata-kata selanjutnya dengan rasa penasaran yang membuncah.

"Aku tahu, aku cuma seorang penjual bakso," lanjut Anton pelan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Aini.

"Aku enggak punya kehidupan mewah untuk ditawarkan seperti orang lain. Tapi aku janji, aku akan selalu berusaha jadi laki-laki yang bertanggung jawab."

Anton menarik napas panjang, menenangkan debar dadanya yang makin liar.

"Aini... maukah kamu jadi pendamping hidupku?"

Hening sejenak menyelimuti mereka. Desir angin taman seolah ikut menahan napas.

Aini menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya yang tak bisa lagi ditutupi.

Dengan senyum malu-malu, ia akhirnya mengangguk pelan.

"Insya Allah... aku mau, Mas."

Mendengar jawaban itu, binar bahagia langsung terpancar dari wajah Anton. Alhamdulillah. Sebuah kelegaan yang luar biasa membuncah di dadanya, perasaan bahagia yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.

Bertamu ke Rumah Orang Tua Aini

Beberapa hari setelah momen di taman, Anton memboyong ibunya untuk bertamu ke rumah orang tua Aini. Kedatangan mereka disambut dengan kehangatan khas keluarga sederhana.

Rupanya, ayah Aini sudah mengenal sosok Anton sejak lelaki itu masih kecil. Beliau tahu betul bagaimana perjalanan hidup Anton—seorang anak yang tekun, santun, tak pernah membuat ulah, selalu ringan tangan membantu ibunya, dan tak pernah meninggalkan ibadah dan ternyata tidka berubah sampai sekarang.

"Ayah ini sudah paham betul sama Anton sejak dia masih kecil," ujar ayah Aini sumringah di sela perbincangan mereka.

"Dari dulu anaknya memang sopan. Enggak pernah macam-macam."

Ibu Aini yang duduk di sampingnya pun mengangguk setuju.

"Yang kami cari untuk Aini itu bukan soal seberapa banyak hartanya, Mas, tapi akhlaknya. Soal rezeki, nanti bisa dicari dan diikhtiarkan bersama."

Sama sekali tak ada keraguan atau tatapan meremehkan dari kedua orang tua Aini, meski mereka mengira Anton hanyalah seorang pedagang bakso keliling. Bagi mereka, kejujuran, rasa tanggung jawab, dan ketaatan pada agama jauh lebih berharga dibanding deretan kemewahan semu.

Anton hanya bisa tersenyum tulus mendengarkan semua penuturan itu. Sama sekali tak terlintas di benaknya untuk membongkar siapa ia sebenarnya saat ini. Sebab, jika ada orang yang mau menerimanya dengan tangan terbuka hanya sebagai seorang penjual bakso, maka itulah ketulusan sejati yang selama ini ia cari-cari.

Tak seorang pun di ruangan hangat itu menyadari, bahwa pria sederhana yang duduk membungkuk penuh hormat di hadapan calon mertuanya itu sebenarnya adalah seorang pemimpin besar dengan ribuan karyawan di bawah naungannya. Namun untuk saat ini, rahasia itu biarlah tetap tersimpan rapat.

Advertisement (End-Post)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar